Purworejo Berduka, Ulama Kharismatik KH Thoifur Mawardi Berpulang

oleh
Ist.

KORANJURI.COM – Umat Islam di Purworejo dan sekitarnya kembali berduka dengan meninggalnya KH Thoifur Mawardi, seorang ulama kharismatik yang dikenal luas karena keilmuannya, karomahnya, dan keteladanan akhlaknya.

Beliau meninggal dunia pada Selasa (19/08/2025) sekitar pukul 16.30 WIB di RSUD Tjitrowardoyo, Purworejo, setelah dirawat beberapa hari karena gangguan fungsi ginjal dan hipertensi.

KH Thoifur Mawardi lahir di Purworejo pada tanggal 8 Agustus 1955. Beliau adalah putra dari KH R. Mawardi, seorang ulama yang juga dikenal di Purworejo.

Sejak kecil, beliau dikenal tekun dalam menuntut ilmu agama dan melanjutkan pendidikannya di beberapa pesantren besar Jawa, termasuk Pondok Pesantren Sugihan, Kajoran dan Pondok Pesantren Lasem.

Pada tahun 1976, beliau berangkat ke Makkah dan mondok di Ma’had Rushaifah di bawah bimbingan Al-‘Allamah Al-Habib Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki.

Selama 12 tahun, beliau bermukim di Makkah, mengkaji kitab-kitab induk Islam, terutama hadits, sirah nabawiyyah, dan tasawuf. Beliau dikenal memiliki penguasaan yang sangat luas hingga dijuluki “kitab berjalan” oleh rekan ulama dan habaib.

Kiai Thoifur dikenal bukan hanya karena keilmuannya, tetapi juga karena karomah dan keistimewaan spiritualnya. Beberapa kisah yang terkenal antara lain, ahli mimpi bertemu Rasulullah SAW, kisah ‘Bi’ru Thoifur’ (Sumur Thoifur), cinta Hadits Dan Sirah

Sepulang dari Makkah tahun 1988, beliau mendirikan dan mengasuh Pondok Pesantren Daarut Tauhid di Kelurahan Kedungsari, Kecamatan Purworejo.

Pesantren ini berkembang pesat dan memiliki ribuan santri serta beberapa cabang di wilayah Purworejo dan sekitarnya.

KH Thoifur Mawardi dikenal sebagai sosok alim, kharismatik, sederhana, dan penuh kasih kepada umat.

Warisan beliau meliputi Pondok Pesantren Daarut Tauhid, sanad keilmuan hadits dan tasawuf yang bersambung hingga Rasulullah SAW serta keteladanan dalam keistiqamahan ibadah, zuhud, dan cinta Nabi

Beliau bukan hanya guru bagi santri-santri di pesantren, tetapi juga guru bangsa, yang menanamkan pentingnya persatuan, cinta Rasulullah, serta istiqamah dalam dakwah.

Semoga amal ibadah beliau diterima oleh Allah SWT dan menjadi inspirasi bagi umat Islam. (Jon).