KORANJURI.COM – Upaya memastikan seluruh siswanya dalam kondisi prima untuk belajar, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) YPP Purworejo kembali menggelar agenda tahunan skrining kesehatan.
Berlangsung Kamis (16/10/2025), di Indoor Aguna, dalam skrining yang difokuskan pada 421 siswa kelas X ini bekerja sama dengan Puskesmas Kecamatan Banyuurip.
Abdul Karim, S.Pd., Waka Kesiswaan SMK YPP Purworejo menyebut, skrining kesehatan ini merupakan bagian dari Program Pemeriksaan Kesehatan Gratis (PKG) yang digalakkan pemerintah, meskipun bagi SMK YPP Purworejo sudah menjadi kegiatan rutin tahunan.
“Yang diharapkan dari skrining kesehatan ini semua siswa dalam keadaan sehat, yang ending-nya mereka bisa mengikuti kegiatan belajar mengajar dengan maksimal,” ujar Abdul Karim di sela kegiatan.
Sebelum pemeriksaan dimulai, kata Abdul Karim, diawali dengan kegiatan Senam Anak Indonesia Hebat, yang dilanjutkan dengan MBG (Makan Bergizi Gratis), memastikan fisik siswa siap untuk pemeriksaan.
Melalui agenda ini, tegas Abdul Karim, SMK YPP Purworejo bertekad mendukung terciptanya generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga sehat secara fisik dan mental, selaras dengan tujuan utama skrining, Deteksi Dini, Pencegahan dan Penanganan Cepat masalah kesehatan.
“Dengan skrining kesehatan berfungsi untuk mengidentifikasi masalah kesehatan sejak dini, sebelum gejala muncul secara jelas,” terang Abdul Karim.
Dalam kegiatan ini, Puskesmas Banyuurip menerjunkan 10 personelnya, yang terdiri dari bidan, perawat, gizi, serta perawat gigi.
Salah satu petugas dari Puskesmas Banyurip Veri Wulandari, A.M.K., menjelaskan bahwa pemeriksaan yang dilakukan sangat komprehensif, mencakup pemeriksaan fisik dari rambut sampai kaki, meliputi mata, telinga, dan gigi.
“Untuk mendeteksi Penyakit Tidak Menular (PTM), tim melakukan beberapa pemeriksaan penting,” jelas Veri.
Pemeriksaan itu, kata Veri, diantaranya pemeriksaan tensi untuk deteksi dini penyakit tidak menular, pemeriksaan tinggi dan berat badan untuk mengetahui indeks masa tumbuh, pemeriksaan lingkar perut untuk mendeteksi obesitas sentral atau kegemukan serta pemeriksaan gula darah untuk mengetahui risiko diabetes melitus.
“Khusus untuk wanita ada pemeriksaan HB serta pembagian tablet tambah darah,” tambah Veri.
Selain pemeriksaan fisik, skrining juga dilengkapi dengan sesi tanya jawab seputar keluhan atau hal-hal yang dialami siswa. Misalnya, untuk mendeteksi TBC, diajukan pertanyaan tentang batuk lebih dari dua minggu.
Pertanyaan tentang sering transfusi darah diajukan untuk mendeteksi risiko Hepatitis, sementara pertanyaan seputar depresi digunakan untuk skrining kesehatan jiwa.
“Jika ditemukan tanda-tanda atau gejala penyakit menular atau tidak menular, siswa akan mendapatkan edukasi awal. Jika hasilnya tinggi atau memerlukan tindak lanjut, siswa akan segera dirujuk ke Puskesmas untuk penanganan lebih lanjut,” pungkas Veri. (Jon)





