Bupati Purworejo Soroti AKI dan Anak Putus Sekolah di Peringatan Hari Kartini

oleh
Pemotongan tumpeng pada peringatan Hari Kartini di Kabupaten Purworejo, Selasa (21/04/2026) - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Peringatan Hari Kartini ke-147 di Kabupaten Purworejo, Selasa (21/04/2026), menjadi momentum penting untuk merefleksikan peran perempuan sebagai pilar utama pembangunan, sekaligus menghadapi tantangan nyata di sektor pendidikan dan sosial.

Bertema “Kartini Masa Kini: Berdaya dan Berkarya Menuju Indonesia Emas 2045”, kegiatan Peringatan Hari Kartini dibuka oleh Staf Ahli Bupati Rita Purnama mewakili Bupati Purworejo Hj. Yuli Hastuti.

Membacakan sambutan Bupati, Rita Purnama menegaskan, bahwa perempuan Purworejo kini memiliki ruang yang setara untuk menjadi pemimpin, inovator, dan penggerak ekonomi.

Meski peran perempuan semakin dominan, Bupati Yuli Hastuti menyoroti beberapa “PR” besar yang masih mengganjal di Kabupaten Purworejo.

Dalam bidang pendidikan, tercatat sebanyak 6.771 anak usia 7–18 tahun di Purworejo masih putus sekolah atau tidak bersekolah. Angka Kematian Ibu (AKI) masih menjadi perhatian serius, dengan 11 kasus pada tahun 2025 dan telah tercatat 1 kasus hingga April 2026.

“Ini perhatian serius kita bersama. Saya mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menciptakan ruang seluas-luasnya bagi perempuan untuk belajar dan berkarya,” tegas Bupati dalam sambutannya.

Sementara itu, Ketua Panitia Peringatan Hari Kartini ke-147 Kabupaten Purworejo, yang juga sebagai Kabid PPA pada DP3APMD Kabupaten Purworejo, Heny Safaryuni Tataningsih, menyampaikan bahwa Peringatan Hari Kartini bukan sekadar seremoni, melainkan momentum untuk meneruskan perjuangan emansipasi.

“Harapannya, perempuan di Purworejo bisa lebih mandiri secara ekonomi dan aktif berkarya di berbagai sektor untuk melahirkan Kartini masa kini,” ujar Heny.

Rangkaian kegiatan peringatan Hari Kartini tahun ini, menurut Heny, diisi dengan berbagai acara, di antaranya resepsi, lomba fashion show, lomba keluwesan berkebaya yang diikuti organisasi wanita, penampilan paduan suara oleh PWKI, pembacaan makna Kartini oleh Serat Kartini, pertunjukan tari dari istri purnawirawan, hingga line dance oleh Dharma Wanita Kabupaten Purworejo.

Dalam kesempatan tersebut, Heny juga menyoroti masih tingginya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Purworejo.

Sepanjang tahun 2025 tercatat 119 kasus, terdiri dari 50 kasus terhadap perempuan dan 59 kasus terhadap anak.

“Mayoritas kasus adalah kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan penelantaran anak. Kami terus melakukan upaya pencegahan melalui sosialisasi di sekolah, kegiatan parenting, serta kampanye perlindungan perempuan dan anak di berbagai forum,” jelasnya.

Ia menambahkan, meningkatnya angka laporan juga dipengaruhi oleh semakin terbukanya akses pelaporan dan meningkatnya kesadaran masyarakat. Pihaknya memastikan setiap laporan akan ditangani secara serius dengan menjaga kerahasiaan korban.

Ia menyampaikan pesan penting kepada perempuan dan generasi muda. Perempuan diharapkan mampu mandiri dan berkarya agar dapat melindungi keluarga, sementara anak-anak diimbau untuk lebih bijak dan berhati-hati dalam menggunakan media sosial.

Melalui peringatan ini, Pemerintah Kabupaten Purworejo berharap nilai-nilai perjuangan Kartini terus diwariskan, sehingga perempuan dapat menjadi pilar kuat dalam mewujudkan masyarakat yang maju, sejahtera, dan berkeadilan menuju Indonesia Emas 2045. (Jon)