KORANJURI.COM – Dinas Lingkungan Hidup dan Perikanan (DLHP) Kabupaten Purworejo tancap gas merealisasikan program strategis di awal tahun 2026. Fokus utama yang menjadi sorotan adalah upaya penanganan sampah melalui perluasan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jetis.
Kepala DLHP Kabupaten Purworejo, Wiyoto Harjono ST, mengungkapkan bahwa langkah ini merupakan salah satu solusi untuk menjaga daya tampung sampah di wilayah tersebut. Untuk solusi jangka panjang, mengolah sampah menjadi energi.
Proyek perluasan TPA Jetis menjadi agenda paling krusial dalam Bidang Pengelolaan Persampahan tahun ini. Dari luasan saat ini yang mencapai kurang lebih 4,6 hektar, Pemkab akan menambah lahan seluas 2 hektar, sehingga total area TPA akan menjadi sekitar 6,6 hektar.
“Tahun 2026 ini kita masuk tahap pembelian tanah. Proses appraisal atau penilaian harga tanah sudah kita rampungkan di tahun 2025 lalu. Ini adalah investasi besar untuk sistem pengelolaan sampah kita ke depan,” ujar Wiyoto Harjono di kantornya, Kamis (29/01/2026).
Selain infrastruktur besar, DLHP juga memperkuat sektor hulu dengan memberikan bantuan motor roda tiga di 12 lokasi Bank Sampah. Langkah ini diharapkan dapat memperlancar pengangkutan sampah anorganik yang masih mempunyai nilai ekonomi.
Tak hanya soal sampah, DLHP Purworejo juga tengah serius menggarap aspek keanekaragaman hayati. Salah satu proyek besar yang sedang disiapkan adalah transformasi Heroes Park menjadi Kebun Raya.
“Setelah masterplan selesai, tahun 2026 ini kita fokus pada penyusunan Detail Engineering Design (DED). Pembangunan fisiknya direncanakan mulai berjalan tahun depan secara bertahap,” jelasnya.
Di sektor perikanan, DLHP tahun ini menunjukkan keberpihakannya pada nelayan dan pembudidaya lokal melalui sejumlah pengadaan bantuan, yakni, pengadaan 12 kapal baru melalui dana APBD, pendistribusian benih lele, gurami, dan nila untuk Kelompok Budidaya Perikanan (Pokdakan), pengadaan tunnel garam untuk meningkatkan produktivitas Kelompok Usaha Garam Rakyat.
Menariknya, sektor perikanan juga dilibatkan dalam intervensi penanganan stunting. Produk olahan ikan dari kelompok pemasar akan dibeli oleh dinas untuk diberikan kepada anak-anak yang berisiko stunting di Kabupaten Purworejo.
Di sisi regulasi dan teknis, DLHP tengah menunggu kedatangan tim asesor dari Badan Akreditasi Nasional (KAN) pada Februari mendatang. Tujuannya adalah untuk mendapatkan Akreditasi Laboratorium Lingkungan.
“Target kami tahun ini laboratorium kita resmi terakreditasi, baik dari segi manajemen mutu maupun sarana prasarana. Ini penting untuk mengukur status lingkungan hidup daerah secara akurat,” tambah Wiyoto.
Dengan berbagai program mulai dari validasi KLHS, sekolah Adiwiyata, hingga mitigasi emisi gas rumah kaca, DLHP Purworejo optimistis tahun 2026 akan menjadi tahun penguatan tata kelola lingkungan yang lebih hijau dan berkelanjutan. (Jon)





