Kepala Sekolah dan Guru SMK di Purworejo Ikuti Pelatihan Pembelajaran Mendalam dari BBPPMPV SB Yogyakarta

oleh
Pembukaan Pelatihan Pembelajaran Mendalam bagi kepala sekolah dan guru SMK di Purworejo yang diinisiasi BBPPMPV SB Yogyakarta - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VIII Jateng, Maryanto, secara resmi membuka Pelatihan Pembelajaran Mendalam untuk Kepala Sekolah SMK gelombang 2 dan guru SMK gelombang 3 di Purworejo, Minggu (31/08/2025), bertempat di SMKN 1 Purworejo.

Diinisiasi oleh BBPPMPV SB (Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Seni dan Budaya) Yogyakarta, kegiatan ini dilaksanakan serentak di 11 kabupaten/kota di Jawa Tengah.

Peserta Pelatihan Pembelajaran Mendalam ini sasarannya Kepala Sekolah SMK dan guru, terdiri dari 3 (tiga) guru dari setiap sekolah sasaran dengan latar belakang pendidikan MIPAS, IPS/ Humaniora, dan Bidang Keahlian/ Kejuruan.

Pelatihan ini dari dibagi dalam beberapa tahapan dari In 1, Pendampingan 1, 2, 3 dan In 2 mulai tanggal 31 Agustus hingga 30 Oktober 2025.

Berlangsung selama lima hari, dari Minggu (31/08/2025) hingga Kamis (04/09/2025) di Lokus SMKN 1 Purworejo dengan fasilitator Kepala Sekolah oleh Bani Mustofa dan Arie Purwandari serta untuk Guru dengan Fasil dari BBPPMPV Seni dan Budaya (Liem Arisayanti), Dyaning Liestyarini dari SMKN 1 Ngablak Magelang dan Agus Setya Ardianto.

Sutini, pendamping kegiatan dari BBPPMPV SB Yogyakarta menjelaskan, kegiatan pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi Kepala Sekolah dan Guru SMK di wilayah Provinsi Jawa Tengah dalam mengimplementasikan Pembelajaran Mendalam sesuai tugas dan fungsinya.

Diharapkan setelah mengikuti kegiatan ini, pembelajaran mendalam bisa diterapkan di sekolah dengan mengimplementasikannya ke siswa.

“Para fasilitator yang telah mengikuti TOT beberapa bulan sebelumnya,” ujar Sutini di sela kegiatan.

Menurutnya, Kemendikdasmen RI saat ini tengah mengembangkan pendekatan Pembelajaran Mendalam (PM) yang menekankan aspek akademik, karakter, spiritualitas, dan keseimbangan emosi.

Namun, banyak guru yang belum memperoleh pelatihan sistematis tentang PM, sehingga perlu pelatihan praktis dan aplikatif untuk mengintegrasikan PM ke dalam proses pembelajaran sehari-hari.

“Inilah yang melatarbelakangi pelatihan PM ini,” terang Sutini.

Salah satu fasilitator, Bani Mustofa menjelaskan, dalam pelatihan ini materi yang diberikan terkait esensi dari pembelajaran mendalam itu sendiri, termasuk pengelolaan kelas, manajemen sekolah dan lainnya.

Untuk guru lebih ke esensi pembelajaran di kelas dengan menciptakan yang menyenangkan dan menarik dan berkesadaran, karena sementara ini ditengarai kalau pembelajaran guru itu statis, membosankan dan tidak dinamis.

“Harapannya untuk SMK yang difasilitasi BBPPMPV SB Yogyakarta ini, sudah bisa menerapkan pembelajaran yang mendalam ini di sekolah,” kata Bani Mustofa. (Jon)