KORANJURI.COM – Dalam upaya menjamin kualitas tenaga kesehatan yang kompeten dan siap kerja, STIKes Bantul menggelar agenda rutin Evaluasi Praktik Klinik Keperawatan bagi mahasiswa Semester 5.
Pada kegiatan yang berlangsung Selasa (30/12/2025) ini melibatkan sejumlah rumah sakit mitra strategis sebagai upaya sinkronisasi antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri kesehatan.
Hadir dalam evaluasi tersebut perwakilan dari berbagai lahan praktik, di antaranya RSUD Panembahan Senopati, RS Nur Hidayah dan RS Rajawali Citra. Evaluasi ini menjadi krusial karena mahasiswa semester akhir tengah difokuskan pada persiapan skill di berbagai stase, mulai dari KMB, Gawat Darurat, Maternitas, Anak, hingga Keperawatan Jiwa.
Ketua STIKes Bantul, Nuryadin, S.Sos., M.Pd, menegaskan bahwa evaluasi ini adalah bagian dari komitmen institusi dalam menjaga standar lulusan. Menurutnya, masukan dari rumah sakit sangat berharga untuk memetakan kualitas mahasiswa secara riil di lapangan.
Hasil temuan di lapangan, kata Nuryadin, akan dijadikan bahan evaluasi dalam penyusunan kurikulum, penataan sarana prasarana, hingga peningkatan karakter mahasiswa.
“Tujuannya agar lulusan kita kompetitif, tidak hanya di level nasional, tapi juga siap menghadapi standar internasional di era globalisasi,” ujar Nuryadin.
Melalui evaluasi rutin ini, sebut Nuryadin, STIKes Bantul berharap dapat menyatukan visi dan misi dengan pihak rumah sakit selaku penyerap lulusan.
“Dengan kurikulum yang terus diperbarui berdasarkan kebutuhan lapangan, STIKes Bantul optimis dapat mencetak perawat yang tidak hanya unggul secara medis, tetapi juga memiliki integritas karakter yang kuat,” kata Nuryadin.
Senada dengan hal tersebut, Kaprodi D3 Keperawatan STIKES Bantul, Siti Hanifatun Fajriyah, S.Kep., Ns., M.K.M, menjelaskan bahwa plotting praktik di semester 5 dan 6 bertujuan untuk mengasah tanggung jawab mahasiswa sebelum benar-benar terjun ke dunia kerja.
“Kami ingin mengetahui apa saja yang perlu ditingkatkan dan kekurangan apa yang terjadi di semester sebelumnya melalui responsibilitas masing-masing rumah sakit,” jelas Siti.
Menurutnya, point utama dalam evakuasi ini meliputi penyelarasan kurikulum, dengan menyesuaikan materi ajar dengan temuan kasus nyata di rumah sakit, monitoring mahasiswa dengan memastikan setiap kekurangan teknis mahasiswa segera diperbaiki di semester berikutnya serta kesiapan kerja dengan membentuk lulusan yang siap bersaing di pasar kerja internasional.
Dwi Purnomo, Kepala Ruang sekaligus Clinical Educator (CE) dari RSUD Panembahan Senopati Bantul, menyambut baik transparansi evaluasi ini. Ia menilai forum seperti ini jarang dilakukan secara menyeluruh oleh institusi pendidikan lain.
“Secara keseluruhan, mahasiswa STIKes Bantul cukup bagus. Meski ada catatan fluktuasi performa pada angkatan tertentu, hal itu tidak masalah selama mahasiswa tetap terpantau dan mau melakukan perbaikan. Dengan evaluasi ini, kami sebagai CE juga bisa ikut mengevaluasi diri bersama-sama,” ungkap Dwi. (Jon)





