Tim Peneliti Prodi PBSJ UMPWR Hidupkan Kembali Sosok Aruna dan Garuda dalam Wayang Kulit Purwa

oleh
Tim peneliti Prodi PBSJ UMPWR hidupkan kembali sosok Aruna dan Garuda dalam wayang Kulit Purwa - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Upaya menghidupkan kembali jejak tokoh mitologis Nusantara dilakukan Tim Penelitian Universitas Muhammadiyah Purworejo (UMPWR) melalui penelitian berjudul “Perancangan Wujud Visual Tokoh Aruna dan Garuda dalam Wayang Kulit Purwa sebagai Acuan Desain Karakter Tokoh Berdasarkan Teks Astadasa Parwa dan Purana”.

Penelitian yang dilaksanakan pada November 2024 tersebut diketuai oleh Dr. Aris Aryanto, M.Hum. Penelitian ini berangkat dari kegelisahan akademik sekaligus budaya terhadap semakin hilangnya wujud tokoh Garuda dalam khazanah wayang kulit purwa.

“Aruna dan Garuda merupakan dua burung dewata, putra Dewi Winata dan Resi Kasyapa, yang dikenal dalam berbagai kisah kuno India dan Nusantara. Keduanya hadir dalam tradisi Itihasa, yang mencakup epos Ramayana dan Mahabharata, serta Purana, yakni kumpulan kisah-kisah kuno. Dalam perjalanan sejarah Jawa Kuna, sosok Garuda memiliki jejak yang kuat,” jelas Dr. Aris Aryanto, Senin (02/12/2024).

Tokoh ini telah dikenal sejak masa Medang hingga Majapahit dan bahkan diwujudkan dalam bentuk arca berukuran besar di Candi Sukuh pada masa Majapahit akhir.
Bagi masyarakat Indonesia, Garuda bukan sekadar tokoh mitologis.

Kisahnya tentang pengabdian dan bakti kepada sang ibu menghadirkan nilai moral yang kemudian menemukan relevansinya dalam perjalanan bangsa Indonesia. Sosok Garuda bahkan diabadikan sebagai lambang negara sejak Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945.

Karena itu, kata Dr.Aris, penelitian ini memandang penting untuk menelusuri kembali kedudukan Garuda sebagai bagian dari warisan nilai dan mentalitas bangsa, sekaligus memperkenalkan kembali kekayaan tersebut kepada masyarakat melalui medium seni pertunjukan dan kriya tradisional.

“Penelitian ini secara khusus bertujuan melacak sumber-sumber tekstual yang memuat kisah dan karakter Aruna serta Garuda. Sumber tersebut kemudian dianalisis untuk menghasilkan deskripsi karakter dan rancangan visual kedua tokoh dalam bentuk wayang kulit purwa,” ungkap Dr. Aris

Dengan pendekatan tersebut, penelitian tidak sekadar berhenti pada upaya mendokumentasikan cerita lama, tetapi juga menerjemahkan nilai, karakter, dan simbol yang terkandung di dalamnya ke dalam bentuk visual yang dapat dikenali dan diapresiasi oleh masyarakat masa kini.

Untuk mencapai tujuan tersebut, tim peneliti menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan model studi kasus tunggal. Analisis dilakukan melalui pendekatan strukturalisme dinamik dan ikonologi-ikonografi, kemudian dilanjutkan dengan proses penciptaan karya seni kriya wayang kulit purwa.

Perpaduan pendekatan teks, kajian visual, dan penciptaan karya tersebut diharapkan menghasilkan desain karakter Aruna dan Garuda yang memiliki landasan sumber yang kuat sekaligus tetap sesuai dengan karakteristik estetika wayang kulit purwa.

Melalui penelitian ini, UMPWR turut mengambil bagian dalam merawat ingatan budaya Nusantara di tengah perubahan zaman. Upaya menghadirkan kembali Aruna dan Garuda ke dalam dunia wayang bukan semata-mata untuk menghidupkan tokoh lama, tetapi juga membuka ruang bagi generasi sekarang untuk mengenal nilai-nilai luhur yang tersimpan di balik kisahnya.

“Penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu pijakan pengembangan desain karakter wayang sekaligus memperkaya khazanah seni, budaya, dan identitas visual Indonesia,” pungkas Dr. Aris. (Jon)