Bukan Sekadar PKL, Siswa SMK Bharasa Purworejo Latih Skill Komunikasi Lewat Pengabdian di SMP

oleh
Siswa SMK Bharasa Purworejo tengah melakukan skrining kesehatan saat pengabdian di SMP - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – SMK Bhakti Putra Bangsa (Bharasa) Purworejo kembali menghidupkan program unggulan bertajuk “Pengabdian Siswa Kembali ke SMP”.

Sebanyak 47 siswa kelas XI dari jurusan Keperawatan dan Farmasi diterjunkan ke 18 sekolah menengah pertama di wilayah Purworejo dan sekitarnya, termasuk hingga Wadaslintang dan Sapuran di Kabupaten Wonosobo.

Kegiatan yang berlangsung selama dua minggu, mulai 2 hingga 14 Februari 2026 ini, merupakan bagian dari rangkaian Praktik Kerja Lapangan (PKL) wajib sebagai syarat kelulusan.

Waka Humas SMK Bharasa, Maryatun, S.Pd., atau akrab disapa Mary, menjelaskan bahwa program ini mengedepankan sistem kolaborasi antar jurusan. Para siswa tidak bekerja sendiri-sendiri, melainkan digabung untuk memberikan pelayanan kesehatan yang komprehensif.

Foto bersama usai kegiatan edukasi kesehatan oleh siswa SMK Bharasa Purworejo kepada siswa SMP – foto: Koranjuri.com

“Anak-anak kami terjunkan kembali ke SMP asal mereka untuk menyalurkan ilmu. Fokusnya adalah skrining kesehatan atau TTV (Tanda-Tanda Vital) dan pemberian edukasi kesehatan,” ujar Mary, Jum’at (13/02/2026).

Materi edukasi yang dibawa para siswa SMK Bharasa pun sangat relevan dengan isu remaja saat ini, meliputi Stop Bullying (Anti-perundungan), Bahaya Merokok dan Cek Gula Darah Sewaktu (GDS) serta Dampak Pergaulan Bebas.

Pada materi Bahaya Merokok disampaikan tentang apa itu hari tanpa tembakau, mengapa rokok berbahaya, dampak rokok bagi lingkungan, rokok dan generasi muda, cara menghindari rokok maupun peran dalam mewujudkan dunia bebas rokok.

Pada materi Anti Bullying disampaikan tentang apa itu perundungan, seberapa besar dampak perundungan, dampak perundungan pada anak, penyebab perundungan, studi kasus nyata, pentingnya lingkungan yang aman, menciptakan lingkungan positif, peran orangtua dan guru, serta langkah-langkah mencegah perundungan.

Pada materi Hindari Pergaulan Bebas, dipaparkan tentang apa itu pergaulan bebas, faktor penyebab, pengawasan orangtua, lingkungan atau teman sebaya, media sosial dan teknologi, krisis identitas pada remaja, dampak pergaulan bebas, cara mencegahnya serta peran pendidikan.

Kepala SMK Bharasa Purworejo, Kusumandari, S.Pd., Gr., M.Pd., atau akrab disapa Ndari, mengungkapkan bahwa program ini dihidupkan kembali berdasarkan permintaan dari pihak SMP yang merindukan kehadiran edukasi kesehatan dari SMK Bharasa.

“Sebelum terjun, anak-anak sudah melalui pemadatan materi selama dua minggu agar skill dan komunikasinya matang. Jika saat PKL di desa mereka lebih banyak menangani lansia dan balita, di SMP ini mereka belajar menangani kelompok remaja (teenager),” jelas Ndari.

Selain melakukan skrining kesehatan (tensi, tinggi badan, berat badan, dan riwayat penyakit), para siswa juga aktif membantu kegiatan sekolah di SMP, seperti membantu pembina Pramuka dan ekstra PMR, mengelola UKS, membantu guru piket di Front Office (FO) dan administrasi kelas.

Ndari menyebut, bahwa program ini tidak hanya menjadi sarana berbagi ilmu, tetapi juga menjadi ajang promosi sekolah secara natural. Dengan melihat langsung kecakapan kakak kelasnya, siswa SMP diharapkan mendapat gambaran positif mengenai kualitas pendidikan di SMK Bharasa.

“Manfaat utamanya adalah melatih mental. Anak-anak belajar berkomunikasi dengan pihak luar di luar lingkup sekolah sendiri. Ini bekal berharga sebelum mereka benar-benar lulus,” tambah Ndari.

Selama kegiatan, performa siswa tetap dipantau melalui supervisi ketat dari pembimbing sekolah dan dinilai langsung oleh guru pendamping dari SMP masing-masing berdasarkan kedisiplinan, sikap, dan kemampuan komunikasi mereka. (Jon)