Ketua panitia kegiatan, Okta Adetya, S.Pd., menyebut, kegiatan launching buku antologi ini juga bertujuan untuk membangun pemahaman kolektif terhadap Kurikulum Merdeka, mewadahi bakat peserta didik di bidang penulisan dan sastra, menanamkan pendidikan karakter melalui sastra dan menumbuhkan semangat literasi di kalangan peserta didik.
Prosa cerpen, menurut Okta, dirasa mampu menjadi ruang karya yang tepat sekaligus sederhana bagi peserta didik pada Fase D. Pada jenis sastra ini, mereka tidak hanya mampu mentransfer pengalaman, namun juga menuangkan ide, gagasan, keluh kesah, bahkan bermain dalam dunia imajinasi.
“Imajinasi-imajinasi tersebut tentu bersumber dari pengalaman kontekstual. Cerpen juga dapat dijadikan media untuk mentransformasikan nilai-nilai, amanat, dan pesan tersirat,” jelas Okta.
Jika dilihat, terang Okta, karya-karya dalam buku ini banyak diilhami oleh pengalaman pribadi penulis. Dari sebaran sub tema yang ada, cerpen banyak didominasi oleh topik tutor sebaya dan pengalaman P5. Dominannya kedua topik ini tentu memberikan sinyalemen terbangunnya kesadaran bahwa teacher center dianggap sudah tidak relevan dalam pembelajaran di era sekarang. Anak dapat belajar dimana saja, kapan saja, dan dengan siapa saja.
Selain kedua topik tersebut, ujar Okta, ada juga sisi lain dari Merdeka Belajar yang berhasil dipotret. Beberapa hal tersebut antara lain mencuatnya peran perpustakaan dan peningkatan literasi, penguatan semangat belajar berbasis permasalahan kontekstual sehari-hari, pembelajaran melalui kunjungan, pengaruh guru terhadap minat belajar, peran orang tua terhadap perkembangan belajar, penerapan materi pelajaran dalam kehidupan, pengembangan minat dan bakat, tumbuhnya kesadaran dalam mengenali potensi diri, pengalaman MPLS, fungsi tujuan hidup dalam membentuk fokus belajar, serta beberapa topik lain.
“Tak hanya menekankan pada literasi sastra, kegiatan ini juga mewadahi pemahaman peserta didik terkait dengan literasi digital, terutama aspek digital skill dan digital ethic,” kata Okta.





