“Sementara Rasulullah hanya memerlukan waktu setengah malam saja. Jika dalam ilmu fisika, dikatakan Rasulullah melakukan teleportasi dengan melintasi ruang dan waktu tanpa ada sekat,” ungkap Kyai Nor Kholis.
Dari peristiwa tersebut, kata Nor Kholis, bisa diambil hikmah, yang ditekankan pada risalah dari Allah, yang mana puncak dari peristiwa Isra’ Mi’raj ini Rasulullah bertemu Allah SWT dan menerima perintah dari-Nya untuk melaksanakan sholat lima waktu.
Dari yang awalnya 50 waktu, Rasulullah meminta keringanan hingga akhirnya dikabulkan menjadi sholat lima waktu.
Dari peristiwa Isra’ Mi’raj tersebut, menurut Kyai Nor Kholis, ada berapa poin yang bisa diambil refleksi, yakni sholat lima waktu, tentang keimana serta tahun dalam perjalanan Isra’ Mi’raj tersebut merupakan tahun kesedihan bagi Rasulullah karena ditinggalkan untuk selama-lamanya oleh istri tercinta, Siti Khotijah dan pamannya Abu Thalib.
“Hikmah yang bisa diambil untuk siswa, minimal mereka bisa menjalankan sholat lima waktu. Senakal-nakalnya anak, jangan sampai meninggalkan sholat. Karena sholat merupakan tiang agama. Jika tidak bisa menjaga sholat, sama halnya dengan merobohkan agama Islam,” kata Kyai Nor Kholis berpesan.
Dalam menyampaikan tausiyahnya, Kyai Nor Kholis diselingi dengan Sholawatan dengan iringan grup rebana New Adeeva maupun tampilan gambar dan video di layar proyektor, menjadikan siswa tak cepat bosan dan serius mengikuti kegiatan.





