KORANJURI.COM – Membicarakan masa pubertas atau akil baligh kepada anak-anak usia Sekolah Dasar (SD) seringkali masih dianggap sebagai hal yang canggung, bahkan tabu oleh sebagian masyarakat kita.
Padahal, pemahaman yang benar mengenai perubahan tubuh dan kesehatan reproduksi sangat krusial untuk membekali anak-anak agar mampu menjaga batasan diri dan terhindar dari risiko kekerasan seksual.
Berangkat dari keresahan tersebut, tim peneliti dari Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Purworejo (UMPWR) tergerak untuk menghadirkan solusi inovatif.
Melalui skema pendanaan hibah Risetmu dari Majelis Diktilitbang Pimpinan Pusat Muhammadiyah, tim ini sukses mengembangkan sebuah paket media pembelajaran terintegrasi untuk siswa kelas 5 SD.
Tim peneliti ini digawangi oleh dua dosen yaitu, yakni Nur Ngazizah, M.Pd., dan Ari Fajar Isbakhi, M.Pd. Menariknya, riset ini tidak berjalan sendiri, melainkan berkolaborasi aktif dengan empat mahasiswa berbakat dari PGSD UMPWR, yaitu Yuli Siswanto, Fina Ainur Rohmah, Muhammad Khadiq, dan Hafidz Fauzi Ma’ruf.
Nur Ngazizah, M.Pd., selaku Ketua Tim Peneliti mengungkapkan, dalam hal ini pihaknya menggunakan ‘Gamifikasi’ untuk memberikan pembelajaran tentang pubertas kepada siswa.
“Biasanya, pada pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) tentang pertumbuhan dan perkembangan manusia di sekolah disampaikan dengan metode ceramah konvensional, yang mengakibatkan siswa sering merasa bosan, malu, atau kurang menangkap esensi materi,” jelas Nur Ngazizah, Jum’at (10/04/2026)
Untuk memecahkan kebuntuan tersebut, kata Nur Ngazizah, tim peneliti UMPWR menggunakan pendekatan Gamifikasi.
Secara sederhana, gamifikasi adalah cara memasukkan elemen-elemen permainan (game) ke dalam suasana belajar yang serius.
“Tujuannya satu, membuat belajar menjadi asyik, menantang, dan tidak menakutkan,” terang Nur Ngazizah.
Paket media pembelajaran yang diciptakan, menurut Nur Ngazizah, sangat kaya dan beragam.
Di dalamnya terdapat digital media yang interaktif, e-komik (komik digital) dengan jalan cerita yang dekat dengan keseharian anak, board game (permainan papan) yang bisa dimainkan berkelompok, hingga evaluasi pembelajaran berbasis game digital (gamified assessment).
“Alih-alih mendengarkan ceramah satu arah yang kaku, anak-anak diajak berpetualang membaca komik tentang tokoh sebayanya yang mengalami mimpi basah atau menstruasi pertama, lalu mereka bermain board game untuk menguji pengetahuan mereka dengan suasana riang gembira,” jelas Dosen PGSD UMPWR ini.
Metode ini terbukti ampuh menurunkan kecemasan psikologis anak saat mempelajari topik yang sensitif.
Satu hal yang menjadi keunggulan utama dari karya inovasi Dosen dan Mahasiswa UMPWR ini adalah integrasinya dengan nilai-nilai Al-Islam Kemuhammadiyahan (AIK) yang dikolaborasikan dengan mapel Biologi.
Menurut Nur di, di lingkungan masyarakat yang religius, pendidikan pubertas ala Barat seringkali mendapat penolakan karena dianggap kurang sesuai dengan norma. Oleh karena itu, tim peneliti membungkus materi biologi ini dengan kacamata agama.
Masa pubertas tidak hanya dijelaskan sebagai perubahan hormon atau fisik semata, tetapi dimaknai sebagai gerbang menuju kedewasaan (akil baligh).
Ketika anak memasuki fase ini, mereka diajarkan bahwa kini mereka telah memikul tanggung jawab ibadah secara penuh. Kejadian biologis seperti menstruasi dikaitkan langsung dengan tata cara bersuci (thaharah) dalam Islam.
“Selain itu, anak juga dibekali dengan adab pergaulan dan pentingnya menjaga batasan tubuh (iffah),” kata Nur Ngazizah.
Pendekatan yang mengawinkan sains dan agama ini membuat materi pubertas menjadi sangat elegan, beradab, dan mudah diterima oleh orang tua maupun pihak sekolah.
Nur Ngazizah menyampaikan, karya ini bukan sekadar coba-coba. Sebelum diterapkan, paket media ini telah melewati uji validasi yang ketat dari para ahli materi, ahli media, dan praktisi pendidikan.
“Hasilnya sangat membanggakan, inovasi ini meraih skor kevalidan sebesar 95,19% (kategori Sangat Valid),” ujar Nur Ngazizah bangga.
Lebih jauh lagi, saat media ini diujicobakan secara langsung di salah satu SD Muhammadiyah di Purworejo yang melibatkan 19 siswa kelas 5, antusiasme yang tercipta sangat luar biasa.
Hasil uji kepraktisan,yang diambil dari angket respons siswa dan observasi guru, mencapai angka 90,33% (kategori Sangat Praktis).
Data ini menunjukkan bahwa anak-anak merasa sangat terbantu, lebih paham, dan yang terpenting: merasa gembira selama proses belajar.
Melalui penelitian hibah Risetmu ini, tim dosen dan mahasiswa PGSD UMPWR telah membuktikan bahwa pendidikan karakter dan sains bisa berjalan beriringan dengan cara yang menyenangkan.
Harapannya, paket pembelajaran gamifikasi berbasis nilai Islam ini tidak hanya berhenti di satu sekolah, melainkan dapat diproduksi lebih luas dan menjadi referensi utama bagi guru-guru SD di Purworejo dan seluruh Indonesia.
“Jadi, mengajarkan pubertas kini bukan lagi hal tabu, tapi sebuah petualangan seru menuju kedewasaan yang berakhlak mulia,” tutup Nur Ngazizah. (Jon)





