KORANJURI.COM – Kawasan pariwisata super prioritas Borobudur Highland bersiap menuju era baru yang lebih hijau dan sejahtera. Langkah konkret ini ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) strategis antara Badan Pelaksana Otorita Borobudur (BPOB) dan BUMDesa Binangun Raharja terkait Pengelolaan Sampah Kawasan Pariwisata Zona Otorita Borobudur.
Mengusung tema “Bersama mengelola sampah, membangun kawasan yang bersih, produktif, dan berkelanjutan,” kolaborasi ini berkomitmen mengubah paradigma lama. Limbah pelesiran yang selama ini dianggap beban, kini akan disulap menjadi motor penggerak ekonomi sirkular warga desa.
Prosesi penandatanganan bersejarah ini berlangsung di Aula Glamping De Loano, Borobudur Highland, Kabupaten Purworejo, pada Senin, 6 Juli 2026.
Kesepakatan diteken langsung oleh Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Utama BPOB, Yusuf Hartanto, bersama Direktur BUMDesa Binangun Raharja, Dhani.
Momen penting ini disaksikan langsung oleh jajaran Kepala Divisi BPOB, perwakilan Pemerintah Kalurahan Pagerharjo, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Pagerharjo, para pemangku wilayah (Dukuh), serta mitra strategis lainnya.
Penanganan sampah di destinasi wisata tidak bisa lagi dikelola secara asal. Plt. Direktur Utama BPOB, Yusuf Hartanto, menegaskan perlunya sistem terpadu yang kuat dari hulu hingga ke hilir.
“Pariwisata berkelanjutan adalah masa depan kita. Melalui penandatanganan PKS ini, BPOB berkomitmen untuk memastikan Kawasan Pariwisata Zona Otorita Borobudur bebas dari permasalahan sampah,” ujar Yusuf Hartanto.
Yusuf menambahkan bahwa target mereka bukan sekadar zero waste (bebas sampah), melainkan memastikan proses pemilahan, distribusi, hingga pengolahan akhirnya dilakukan secara bertanggung jawab dengan melibatkan masyarakat lokal. Melalui ekonomi sirkular, limbah akan diputar kembali menjadi barang bernilai guna.
Dampak nyata dari kerja sama ini akan langsung dirasakan oleh desa-desa penyangga di sekitar Borobudur Highland. BUMDesa Binangun Raharja memegang peran sentral dalam operasional harian, mulai dari mengedukasi pemilahan sampah organik dan anorganik di titik kumpul, menyediakan sistem transportasi, hingga mengelola fasilitas pengolahan.
Nantinya, sampah anorganik yang bernilai ekonomis akan didaur ulang (recycle). Sementara itu, sampah organik akan diolah menjadi pupuk kompos untuk menyokong sektor pertanian lokal.
Direktur BUMDesa Binangun Raharja, Dhani, menyambut optimistis kepercayaan besar yang diberikan oleh pemerintah pusat melalui BPOB ini.
“Kerja sama ini menjadi angin segar bagi kami. Selain memastikan kawasan wisata di desa kami tetap asri dan bersih, skema pengelolaan sampah yang terstruktur ini akan memberikan nilai tambah secara ekonomi bagi kas desa dan kesejahteraan masyarakat Pagerharjo pada umumnya,” tutur Dhani.
Proyek ini diproyeksikan membuka lapangan kerja baru bagi warga lokal sekaligus menciptakan sumber Pendapatan Asli Desa (PADes) yang baru.
Sinergi ini dipastikan bukan program musiman yang berumur pendek. BPOB bersama Pemerintah Kalurahan Pagerharjo berkomitmen mengawal program ini lewat edukasi tata kelola limbah yang menyasar unit terkecil, yaitu keluarga dan pelaku usaha wisata.
Kepala Divisi ADTW BPOB, yang hadir mewakili unsur Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, mengingatkan pentingnya standar kebersihan tinggi untuk destinasi internasional.
“Pariwisata kelas dunia membutuhkan standar kebersihan kelas dunia pula. Kami berharap program ini mampu mengedukasi masyarakat secara luas… Kesadaran kolektif inilah yang akan mempertahankan kualitas Borobudur Highland sebagai destinasi wisata hijau dan unggulan di kancah internasional,” tegasnya.
Melalui evaluasi berkala dan penguatan kerja sama antar-pemangku kepentingan (BPOB, BUMDesa, Pokdarwis, dan warga), inisiatif ini diharapkan mampu memberikan efek domino yang positif.
Target jangka panjangnya adalah menginspirasi desa wisata lain di seluruh Indonesia, sekaligus memastikan keasrian alam Kawasan Otorita Borobudur tetap. (Jon)





