Keseruan Batik Carnival SMK Batik Perbaik Purworejo, Ajang Kreativitas Siswa dan Guru

oleh
Parade peserta Batik Carnival SMK Batik Perbaik Purworejo - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Kemeriahan HUT ke-81 Republik Indonesia di Kabupaten Purworejo terasa semakin istimewa berkat digelarnya ajang Batik Carnival SMK Batik Perbaik Purworejo pada Sabtu, 22 Agustus 2026.

Mengusung konsep “Culture in Motion”, kegiatan tahunan ini menampilkan 14 kostum megah kreasi kolaborasi siswa dan guru yang memadukan gaya Jember Fashion Carnaval dengan kearifan lokal khas Purworejo seperti clorot dan klepon.

Kepala SMK Batik Perbaik Purworejo, Isnina Susiyatmi, S.E., menyampaikan bahwa kegiatan ini tidak hanya berfokus pada prestasi akademik, tetapi juga wadah pengembangan seni budaya dan pembentukan karakter siswa.

Lebih lanjut, Isnina menjelaskan bahwa Batik Carnival 2026 ini merupakan agenda rutin yang selalu diadakan setiap perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia dalam bentuk karnaval sekaligus festival.

Tema utama yang diangkat berfokus pada kolaborasi dan kreativitas antara siswa dan guru untuk mengasah aspek non-akademik, khususnya seni budaya serta penguatan karakter disiplin, kerja sama, dan tanggung jawab anak.

“Para siswa sangat antusias dan menantikan momen kolaborasi ini. Mereka merasa senang serta menikmati seluruh proses kreatifnya, mulai dari persiapan dan perancangan hingga penampilan di atas catwalk demi membentuk karakter yang percaya diri,” ujar Isnina.

Ia juga merinci bahwa dalam pelaksanaannya, terdapat 14 kostum yang disesuaikan dengan jumlah kelas yang berpartisipasi, yaitu 7 kelas X dan 7 kelas XI, sementara siswa kelas XII saat ini masih difokuskan pada kegiatan belajar mengajar (KBM).

Dari sisi desain, kostum-kostum tersebut terinspirasi oleh konsep dasar Jember Fashion Carnaval (JFC) yang dipoles dengan budaya lokal Purworejo. Meskipun disesuaikan dengan keterbatasan sumber daya dan dana, kreativitas dan karakter tangguh anak-anak tetap terpancar secara maksimal.

Gaya busana yang diusung menggunakan konsep *Culture in Motion* (budaya dalam gerak), yang menampilkan dinamika gerakan fisik, model, serta desain kreasi busana dengan narasi budaya bebas khas Indonesia, termasuk menonjolkan ikon-ikon lokal kebanggaan Purworejo seperti jajanan tradisional clorot dan klepon yang mencerminkan karakter kecintaan pada budaya lokal.

Puncak acara yang dinantikan adalah sesi penilaian dari dewan juri yang terdiri atas Sudrajad Dewandana, Anwar Rohman, Herlin Khoe, yang merupakan ahli di bidangnya, yakni seni tari, seni rupa dan model.

Penampilan luar biasa para siswa mendapatkan apresiasi tinggi, namun para juri juga memberikan sejumlah catatan penting untuk evaluasi ke depan.

“Semuanya luar biasa dan ini karya-karya yang sangat besar. Juara itu hanya bonus, tetapi proses musyawarah antar teman sekelas dalam menyusun kostum ini adalah pencapaian serta wujud pembentukan karakter yang sesungguhnya,” ungkap Dewa mewakili tim juri.

Senada dengan hal tersebut, Anwar dan Herlin menyoroti pentingnya kenyamanan kostum saat dikenakan berjalan, penghayatan ekspresi, serta keharmonisan perpaduan warna.

“Model harus confidence, jangan takut tampil. Perhatikan juga sikap jalan, gerak tangan, serta keserasian paduan warna agar karya ke depannya semakin sempurna,” pesan juri kepada para peserta.

Rangkaian perayaan kemerdekaan di sekolah ini nantinya akan ditutup dengan keikutsertaan SMK Batik Perbaik Purworejo yang akan tampil dalam kemeriahan karnaval kemerdekaan tingkat SD, SMP, SLTA dengan mengambil tema Dewi Saraswati pada 24 Agustus 2026 mendatang, sebagai simbol keluhuran budi, karakter mulia, dan dunia pendidikan.(Jon)