KORANJURI.COM – Pelaksanaan Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri di Kabupaten Purworejo tahun ajaran 2026/2027 telah berakhir pada Kamis (25/06/2026) pukul 13.00 WIB.
Secara umum, proses seleksi yang mencakup jalur prestasi maupun domisili di 43 SMP Negeri di wilayah ini berjalan dengan aman dan lancar.
Meski demikian, panitia mencatat adanya fenomena menarik di mana belasan SMP Negeri di Purworejo justru mengalami kekurangan kuota murid baru atau pendaftar pada tahun ini.
Ketua Panitia SPMB Tingkat Kabupaten Purworejo, Sigit Supriyanto, SE.MM., mengungkapkan bahwa dari total 43 SMP Negeri yang melaksanakan SPMB, terdapat sekitar 20 sekolah yang jumlah pendaftarnya belum memenuhi kuota daya tampung yang disediakan.
“Betul, setelah berakhirnya pendaftaran dan dilakukan verifikasi di masing-masing sekolah, kami mendapatkan data ada 20 SMP Negeri yang kekurangan pendaftar. Ada juga sekolah yang pendaftarnya sangat minim, berkisar di angka 20-an siswa saja,” ujar Sigit saat dikonfirmasi dalam wawancara pada Jum’at (26/06/2026) pagi.
Sigit menjelaskan, dinamika pelaksanaan SPMB tahun ini sempat diwarnai kendala teknis pada hari pertama pendaftaran. Server sistem pendaftaran sempat mengalami down atau gangguan selama kurang lebih 2 jam.
“Pada hari pertama sedikit terjadi trouble untuk servernya, sempat down sekitar 2 jam. Namun tim bergerak cepat, hambatan tersebut langsung teratasi. Alhamdulillah di hari kedua dan ketiga, proses pendaftaran kembali lancar tanpa ada kendala sama sekali,” jelasnya.
Berdasarkan data resmi dari Panitia SPMB Kabupaten Purworejo, total kapasitas atau daya tampung yang dipersiapkan untuk seluruh SMP Negeri tahun ini mencapai 7.807 kuota siswa. Angka ini dihitung berdasarkan jumlah rombongan belajar (rombel) serta kapasitas siswa per rombelnya.
Hingga berakhirnya pendaftaran, jumlah total pendaftar yang terealisasi dan masuk ke sistem adalah sebanyak 7.130 siswa. Artinya, terdapat selisih atau kekurangan sebanyak 677 kursi yang belum terpenuhi di sekolah-sekolah negeri, yang tersebar di 20 SMP negeri.
Menurut Sigit, besaran kekurangan siswa ini sangat bervariasi di setiap sekolah. Ada sekolah yang hanya kekurangan di bawah 10 siswa (seperti kurang 1, 3, atau 7 murid), namun ada pula sekolah pinggiran yang tingkat kekurangannya cukup signifikan.
Mengapa sekolah negeri bisa kekurangan murid? Fenomena ini terbilang unik mengingat jumlah lulusan Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Purworejo pada tahun 2026 ini sebenarnya sangat melimpah, yakni mencapai 9.319 siswa (gabungan SD Negeri dan Swasta).
Sementara itu, total daya tampung SMP di Purworejo secara keseluruhan berkisar di angka 10.079 kursi (SMP Negeri 7.807 kuota dan SMP Swasta 2.272 kuota). Secara matematis, kapasitas daya tampung dinilai sangat aman dan mencukupi.
Sigit Supriyanto membeberkan beberapa faktor utama mengapa sejumlah SMP Negeri justru tidak memenuhi kuota. Hal itu dikarenakan sebagian lulusan SD melanjutkan ke Madrasah dan Pondok Pesantren.
Saat ini banyak orang tua dan lulusan SD yang memilih melanjutkan pendidikan ke Madrasah Tsanawiyah (MTs) atau sekolah berbasis keagamaan yang terintegrasi langsung dengan pondok pesantren.
Sekolah-sekolah swasta di Purworejo, ungkap Sigit, dinilai semakin kompetitif, maju, dan berani membuka rombongan belajar (rombel) dalam jumlah banyak, sehingga berhasil menarik minat pendaftar.
“Hal ini juga menjadi berkah tersendiri bagi ekosistem pendidikan karena memberikan ruang dan kesempatan bagi sekolah swasta yang diselenggarakan oleh masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam pendidikan,” kata Sigit.
Mengenai langkah selanjutnya bagi sekolah-sekolah negeri yang pendaftarnya masih sangat minim, pihak Panitia Kabupaten tidak ingin gegabah dalam mengambil keputusan sepihak.
“Terkait solusi untuk sekolah-sekolah yang kuotanya masih sangat minim, hal ini akan segera kami rapatkan terlebih dahulu dengan panitia dan Kepala Dinas Pendidikan. Kita tunggu saja hasil rapat panitia kabupaten untuk menemukan formula dan solusi terbaiknya,” pungkas Sigit. (Jon)





