“Purworejo ini saya kira banyak sasaran tersebut. Film ketika akan ditayangkan punya rambu-rambu, kita juga berikan edukasi kepada pelaku film,” terang Kuat di sela kegiatan.
Saat ini, lanjutnya, LSF juga sedang intens berdiskusi dengan pusat kurikulum agar pesan sensor mandiri bisa masuk di dalam pembelajaran. Misalnya dimasukkan ke pembelajaran Bahasa Indonesia, yang disisipkan pesan-pesan memilah dan memilih tontonan. Sehingga nantinya hal ini menjadi kebiasaan, bisa dipahami dan dilakukan oleh semua orang.
“LSF juga sedang menginisiasi desa sensor mandiri. Diharapkan desa tersebut nantinya bisa berperan aktif dalam menyebarluaskan informasi terkait sensor mandiri,” ungkap Kuat.
Di tahun 2024 ini, ada 40 titik sosialisasi salah satunya di Purworejo. Dari LSF juga menginisiasi adanya desa sensor mandiri, yang saat ini ada 7 desa, yakni berada di Klaten, Karanganyar, Malang, Madiun, Yogyakarta dan Bali.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Purworejo, Wasit Diono menyambut baik atas sosialisasi yang diberikan kepada para siswa di Purworejo.
Menurut Wasit, semua media baik HP atau Bioskop dan yang lain, sekarang anak-anak bisa melihat itu. Anak-anak sekarang bisa nonton film di kamar, sehingga harus ada filter. Bisa jadi kenakalan anak juga berawal dari nonton film yang tidak pas.
“Saya berharap nanti ada tindak lanjut, tidak sebatas seremonial, mengundang perwakilan tetapi ada turun ke lapangan,” kata Wasit.
Dalam sosialisasi tersebut, siswa dihimbau agar memilih tontonan sesuai dengan umur mereka. Sosialisasi juga diisi dengan tanya jawab. Para peserta yang mengajukan pertanyaan, mendapat kenang-kenangan dari LSF. (Jon)





