KORANJURI.COM – Jum’at (31/10/2025) menjadi hari yang emosional sekaligus bersejarah bagi Tuwuh Sutrisno, S.Pd , M.M.Pd. Di usianya yang genap 60 tahun, Kepala Sekolah SMPN 1 Purworejo ini secara resmi mengakhiri masa tugasnya sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) per 1 November 2025.
Di hari terakhir bertugas, Tuwuh berpamitan dengan guru, karyawan, dan seluruh siswa sekolah favorit di Purworejo tersebut.
Tiga tahun terakhir masa pengabdian Tuwuh di SMPN 1 Purworejo (9 September 2022 – 31 Oktober 2025) diwarnai oleh prestasi gemilang yang sulit dilupakan. Paling mencolok adalah dominasi Marching Band Gita Bahana Spensa yang berhasil meraih Trophy Bergilir Piala Raja Hamengkubuwono dalam Kejuaraan Nasional Marching Band Piala Raja selama tiga tahun berturut-turut (2023, 2024, dan 2025).
“Karena tiga kali berturut-turut meraih juara umum, akhirnya MB Gita Bahana Spensa berhasil memboyong piala tetap Piala Raja,” ungkap Tuwuh, merendah namun bangga.
Tak hanya di bidang seni, sekolah ini juga menorehkan tinta emas di bidang akademik dengan meraih kejuaraan pada Olimpiade Sains tingkat Nasional di tahun kedua kepemimpinannya.
“Itu bukan karena prestasi saya, tapi karena memang mereka anak-anak hebat dan guru pembimbingnya juga hebat-hebat. Kebetulan saya kepala sekolahnya saat prestasi itu diraih,” ujarnya.

Perjalanan karier Tuwuh Sutrisno sebagai guru PNS mencakup waktu 39 tahun 10 bulan, dimulai sebagai guru Bahasa Indonesia di SMPN 8 Purworejo pada 1 Januari 1986. Kariernya berlanjut ke SMPN 2 Purworejo (9 tahun), SMPN 4 Purworejo (10 tahun), sebelum diangkat menjadi Kepala Sekolah pertama kali di SMPN 34 Purworejo (2015-2017).
Sebelum memimpin ‘Spensa’ (julukan SMPN 1), ia juga sempat menjadi Kepala SMPN 10 Purworejo selama 5,5 tahun, bahkan merangkap sebagai Plt Kepala Sekolah di SMPN 35 dan SMPN 36 Purworejo.
Di ujung masa tugasnya, Tuwuh tak hanya meninggalkan jejak prestasi, tapi juga ‘uneg-uneg’ kritis yang ia sebut sebagai dilema yang harus segera diselesaikan demi kemajuan pendidikan di Purworejo.
Ia menyoroti fenomena sorotan masyarakat, terutama orangtua, terhadap dunia pendidikan di Purworejo khususnya.
“Saat ini guru merasa dilema. Atasan menuntut prestasi dan terobosan, namun masyarakat seolah membatasi tugas guru hanya untuk mengajar saja, tanpa perlu membuat terobosan yang membutuhkan biaya,” kata Tuwuh.
Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) untuk SMP sebesar Rp1,1 juta dinilai jauh dari kata cukup. Tuwuh memperkirakan kebutuhan ideal minimal Rp2 juta, sehingga menyisakan kekurangan Rp900 ribu.
Menurut Tuwuh, jika kekurangan biaya ini dibebankan melalui sumbangan sukarela, kegiatan sekolah dipastikan tidak akan berjalan optimal dan prestasi akan sulit diraih. Namun, saat sekolah melakukan inisiatif untuk pendanaan, guru kerap menjadi sasaran hujatan masyarakat.
“Mau outing class, dikatakan cari untung. Guru punya motor baru dikatakan dari iuran orangtua untuk beli motor. Jadi mereka yang menghujat ini tak melihat realitas,” keluh Tuwuh.
Harapan besar Tuwuh menjelang purna tugas adalah agar pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi masalah pendanaan ini. Yakni, dengan menaikkan Dana BOS menyesuaikan dengan kebutuhan riil sekolah.
Pemerintah daerah harus duduk bersama dan mensosialisasikan secara jujur realitas biaya pendidikan kepada orangtua siswa.
“Jika pendidikan mau gratis, ya Dana BOS dinaikkan sesuai kebutuhan sekolah. Realita di lapangan, kita yang selalu berhadapan dengan anak butuh biaya, butuh alat praktek dan sarana prasarana yang memadai. Hal ini harus dipikirkan oleh pemegang kebijakan,” pungkas Tuwuh, menegaskan bahwa ia tidak ikhlas jika guru-guru tiap hari harus dihujat hanya karena masalah uang. (Jon)





