SMPN 13 Purworejo Dinobatkan Jadi Sekolah Adiwiyata Nasional 2025

oleh
Kepala SMPN 13 Purworejo Achmad Yulianto, S.Pd., dengan Tim Adiwiyata sekolah - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – SMPN 13 Purworejo menorehkan prestasi membanggakan setelah resmi ditetapkan sebagai salah satu dari empat sekolah di Kabupaten Purworejo yang berhasil meraih predikat Sekolah Adiwiyata Nasional tahun 2025.

Penghargaan bergengsi ini diserahkan secara langsung oleh Menteri Lingkungan Hidup, Dr. Hanif Faisol Nurofiq, dalam sebuah acara di TMII Jakarta pada Kamis, 11 Desember 2025.

Kepala SMPN 13 Purworejo, Achmad Yulianto, S.Pd., menyampaikan rasa syukur dan bangganya atas pencapaian ini.

“Capaian ini adalah berkat kerja sama seluruh warga sekolah, khususnya Tim Adiwiyata, serta dukungan penuh dari orang tua siswa,” ujar Achmad Yulianto pada Sabtu (13/12/2025).

Achmad Yulianto juga kembali mengingatkan pesan Menteri Lingkungan Hidup dalam penyerahan penghargaan. “Jadikan Lingkungan Hidup sebagai panglima pembangunan. Jika ekonomi yang menjadi panglima pembangunan, maka tunggulah kehancurannya”.

“Bahwa kunci dalam menjaga lingkungan terletak pada moralitas, kemanusiaan serta kesadaran. Dan itu dimulai dan ditanamkan dari lingkungan sekolah,” kata Achmad Yulianto didampingi Ketua Tim Adiwiyata, Titin Susilaningsih, S.Pd.,Si.

Titin menambahkan bahwa proses pengajuan Sekolah Adiwiyata Nasional ini sudah dimulai sejak Mei 2025 melalui pengisian aplikasi SIDIA.

“Ada 29 indikator yang harus kami penuhi, di antaranya terkait dengan gerakan-gerakan peduli lingkungan yang mencakup kurikulum, kegiatan partisipasi, dan kebijakan sekolah tentang pemeliharaan sarana prasarana terkait lingkungan sehat,” jelas Titin.

Untuk memenuhi kriteria Adiwiyata, banyak poin-poin detail yang harus dibuktikan. Seperti pada Kurikulum, dengan adanya bukti program peduli lingkungan dalam visi dan misi sekolah.

Dalam hal kebijakan sekolah, adanya jadwal Adiwiyata rutin setiap hari Sabtu siang. Dalam hal partisipasi sekolah, keikutsertaannya dalam kegiatan kebersihan skala global atau nasional seperti World Cleanup Day (WCD).

Titin menyebut, kegiatan rutin yang dilakukan oleh seluruh siswa adalah bersih-bersih kelas dan lingkungan masing-masing pada jam terakhir di hari Sabtu, dalam kegiatan Adiwiyata.

Secara keseharian, aspek kepedulian lingkungan telah diintegrasikan ke dalam kurikulum setiap Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM).

“Guru selalu menyampaikan bagaimana cara menjaga lingkungan, seperti mematikan lampu, listrik, dan air ketika tidak digunakan,” tambah Titin.

Titin atas nama tim mengaku sangat bangga karena tidak semua sekolah berhasil dalam pengajuan predikat ini. Namun, ia menegaskan bahwa predikat Sekolah Adiwiyata Nasional adalah tanggung jawab seluruh warga sekolah, mulai dari kepala sekolah, guru, karyawan, dan siswa.

“Ini membuat kami lebih bersemangat lagi untuk mempertahankan predikat ini. Bahkan, setiap semester kami wajib mengisi aplikasi sebagai salah satu cara mempertahankan predikat Sekolah Adiwiyata,” terang Titin.

Dengan raihan ini, ujar Titin, SMPN 13 Purworejo berharap dapat meningkatkan kepedulian lingkungan secara berkelanjutan. Dan jika semua aspek sudah mendukung, menargetkan untuk melangkah ke level berikutnya, yaitu Sekolah Adiwiyata Mandiri. (Jon)