KORANJURI.COM – Menjelang musim hujan, sinergi lintas instansi digalakkan demi mengamankan infrastruktur vital dan pasokan air bersih. Perum Jasa Tirta I bersama Perumda Air Minum Tirta Perwitasari Kabupaten Purworejo turun tangan melakukan pengerukan endapan di Bendung Boro, Purworejo.
Langkah revitalisasi ini dikoordinasikan langsung dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Serayu Opak selaku pemilik wilayah sungai, guna mengatasi endapan lumpur yang telah bertahun-tahun menumpuk.
Pada tahap pertama, volume sedimentasi yang dikeruk mencapai 1.000 meter kubik dengan perkiraan waktu pengerjaan sekitar tujuh hari menggunakan satu unit alat berat.
Direktur Perumda Air Minum Tirta Perwitasari, Hermawan Wahyu Utomo menyebut, pengerjaan ini menjadi sangat penting karena Bendung Boro memiliki peran strategis dengan cakupan layanan irigasi seluas sekitar 5.126 hektare.
Selain untuk irigasi, Bendung Boro 1 dan Bendung Boro 2 juga menjadi sumber air baku utama untuk kebutuhan air bersih di wilayah Purworejo, Banyuurip, Purwodadi, hingga kawasan timur Sungai Bogowonto, termasuk Cangkrep dan Sidomulyo.
“Penumpukan endapan ini sendiri dipercepat oleh material yang terbawa dari kawasan hulu, termasuk akibat dari dampak pembangunan Bendung Bener,” ujar Hermawan, Selasa (06/10/2026).
Dalam pelaksanaannya, Perum Jasa Tirta I memindahkan material sedimentasi langsung dari tampungan bendung ke bagian tanggul tanpa mengeluarkannya dari kawasan, sebab material tersebut berstatus sebagai aset resmi milik BBWS.
Hermawan menegaskan bahwa normalisasi ini sangat krusial untuk mencegah risiko kerusakan tebing, sempadan sungai, hingga bangunan intake PDAM saat debit air meningkat.
“Ini merupakan upaya PDAM bekerja sama dengan Jasa Tirta di bawah koordinasi BBWS Serayu Opak untuk menormalisasi atau merevitalisasi Bendung Boro. Sedimentasinya sudah lama menumpuk dan belum ada pengerukan, sehingga dikhawatirkan mengganggu fungsi bendung,” ungkap Hermawan.
Dia berharap, melalui pengerukan ini, daya rusak air bisa dikurangi, terutama saat banjir. Selain itu, kapasitas tampungan dan cadangan air baku dapat meningkat sehingga pelayanan air bersih kepada masyarakat Purworejo tidak terganggu.
Sementara itu, Pelaksana Pengusahaan Perum Jasa Tirta I, Rofi Budiarto, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari program kerja sama penugasan BUMN pengelola sumber daya air yang disinkronkan setiap tahun bersama BBWS Serayu Opak.
“Untuk kegiatan pengerukan ini memang merupakan program kami bersama BBWS Serayu Opak. Perum Jasa Tirta I sebagai BUMN pengelola sumber daya air mendapat penugasan untuk ikut mengelola wilayah sungai, termasuk di Bendung Boro,” jelas Rofi.
Rofi juga menambahkan terkait proses realisasinya, setelah dikoordinasikan dan disinkronisasikan dengan BBWS, akhirnya kegiatan pengerukan di Bendung Boro ini bisa dilaksanakan pada 2026.
Kegiatan pengerukan ini merupakan bagian dari program pemeliharaan sumber daya air yang disinkronkan setiap tahun bersama BBWS, di mana realisasinya turut diperkuat melalui usulan surat dari Bupati Purworejo pada 2025 lalu.
Sebagai langkah lanjutan ke depan, PDAM Tirta Perwitasari juga merencanakan kerja sama dalam program konservasi sumber mata air di wilayah Loano dan sekitarnya.
Upaya tersebut nantinya akan diarahkan untuk menjaga keberlanjutan sumber air melalui pemeliharaan mata air serta penanaman vegetasi konservasi, sekaligus merencanakan pemeliharaan Bendung Boro secara bertahap setiap tahunnya.
Melalui kolaborasi strategis antara PDAM, Perum Jasa Tirta I, dan BBWS Serayu Opak ini, ketahanan infrastruktur sungai kian terjaga, daya rusak banjir dapat diredam, dan keberlanjutan cadangan air baku bagi masyarakat Purworejo dapat terus diandalkan.(Jon)





