Di Tengah Gejolak Geopolitik Global, Nyoman Cantiasa: Indonesia Punya Bargaining Power

oleh
Para peserta P3N Angkatan XXVII Lemhanas RI - foto: Ist.

KORANJURI.COM – Wakil Kepala BIN periode 2023-2024 Letjen TNI I Nyoman Cantiasa mengingatkan pentingnya memperkuat kewaspadaan nasional ditengah konflik global yang kompleks, cepat berubah dan penuh ketidak pastian.

Menurut Cantiasa, kewaspadaan nasional menuntut kualitas kesiapan dan kesiapsiagaan RI untuk mampu mendeteksi, antisipasi dini dan pencegahan dari berbagai macam bentuk dan sifat potensi ancaman.

Dalam konteks konflik global kewaspadaan nasional bertindak sebagai ‘Imunitas Bangsa’, dengan menjaga kohesi sosial dalam negeri ditengah derivasi berbagai ancaman global.

Dinamika Geopolitik telah bergeser dari era kestabilan menuju fase volatilitas tinggi. Ini akan berdampak untuk Indonesia. Secara geopolitik dan keamanan perang Iran-AS/Israel saat ini membawa dampak bagi Indonesia.

Salah satu dampaknya di bidang stabilitas ekonomi yakni, terganggunya investor nasional yang memiliki bisnis di Timur Tengah dan Eropa. Khususnya, terkait terganggunya pelayaran internasional, rantai pasok dan kenaikan harga minyak.

Kapal dagang akan mengalihkan rute ke sekitar Tanjung Harapan (Afrika Selatan) dengan waktu layar 14 hari lebih lama. Dengan demikian, Shipping Cost meningkat lebih mahal.

“Ancaman global dan ancaman nasional akan menjadi tekanan terhadap kondisi bangsa,” ujarnya.

Sehingga, naluri kewaspadaan harus dimiliki oleh para peserta Lemhanas melalui sense of crisis, sense of urgency, leverage intelligence, penguatan diplomasi, filtering information dan sinergitas antar instansi.

Salam menghadapi dunia yang semakin transaksional dan tak terprediksi, Indonesia tidak bisa lagi hanya mengandalkan retorika tradisional ‘non blok dan bebas aktif’.

Indonesia harus ambil posisi netralitas aktif sebagai kekuatan penyeimbang yang memiliki bargaining power.

Di hadapan 85 peserta P3N Angkatan XXVII Lemhanas RI, Cantiasa mencontohkan, negara Sri Lanka mengalami keruntuhan ekonomi dan ketidakstabilan politik.

Kondisi itu dimanfaatkan oleh kepentingan asing akibat kegagalan seorang pemimpin yang tak mampu mengintegrasikan instrumen kewaspadaan secara efektif.

“Apa refleksi untuk Indonesia?” ujarnya bertanya.

“Kewaspadaan nasional menjadi instrumen strategis yang berfungsi sebagai sistem peringatan dini untuk mencegah tekanan eksternal yang berkembang menjadi konflik internal,” lanjut Cantiasa.

Dirinya menawarkan konsep menata Negara dengan Leverage DIME atau Diplomasi, Intelijen, Militer dan Ekonomi.

“Itu untuk mengembalikan negara ke tujuan asalnya, demi Indonesia yang lebih siap dan berdaulat,” kata Cantiasa. (Thalib)