KORANJURI.COM – SMPN 16 Purworejo menggelar kegiatan Gelar Karya P5 bertema Kearifan Lokal dengan mengangkat Tradisi Pernikahan Adat Jawa, Kamis (23/01/2025).
Kegiatan diikuti oleh semua siswa dari kelas 7, 8 dan 9. Dalam pernikahan Adat Jawa ini, semua siswa memerankan peran masing-masing. Mulai dari pengantin, orang tua, dukun manten, cucuk lampah, manggala yudha, putri dhomas, pranata adicara, pamedhar sabda pasrah tinampi, sampai wedding organizer dan tamu undangan.
Pernikahan adat Jawa ini memiliki berbagai prosesi yang dilakukan, usai pelaksanaan ijab kabul. Ada temu manten yang dipimpin oleh cucuk lampah, balangan suruh, menginjak telur, wisuhan, sinduran. Saat di panggung, juga dilaksanakan prosesi ada bobot timbang, nanem jero, kacar kucur, klimahan dan sungkeman.

Ketua Panitia Kegiatan P5, Okta Adetya, S.Pd., menjelaskan, rangkaian kegiatan P5 ini cukup banyak. Namun yang menjadi point utama dari kegiatan ini ada pada pengenalan tradisi adat dan tata cara rangkaian kegiatannya.
Dari awal, kata Okta, peserta didik lebih banyak berdiskusi tentang perubahan pernikahan dari pakem adat Jawa dan perkembangannya, mitos terkait pernikahan yang banyak beredar di kalangan masyarakat, sosialisasi tentang UU Perkawinan juga menjadi bahasan utama.
Siswa juga diajak mengenal gendhing beserta filosofi dan sejarahnya, pakaian adat, dan filosofi dari masing-masing prosesi.
“Kami juga membahas tentang budgeting. Biar anak punya gambaran dan punya manajemen keuangan terkait itu. Karena anak tahunya menikah ya menikah, tanpa mempertimbangkan banyak hal,” ujar Okta, di sela kegiatan.
Dari sisi ketrampilan, pihaknya membekali siswa dengan mendesain seserahan. Di bidang kewirausahaan anak juga dibekali dengan membuat souvenir. Harapannya, ke depan keterampilan ini bisa menjadi salah satu potensi kewirausahaan di bidang ekonomi kreatif.
Materi lain yang dibahas adalah pamedar sabda dan pranata adicara. Diangkatnya hal ini karena adanya fenomena kesulitan anak dalam membaca fonema dalam bahasa Jawa yang kadang dibaca a dan kadang dibaca o. Harapannya anak-anak menjadi familiar dengan istilah-istilah Jawa.
“Seluruh rangkaian kegiatan yang telah dilaksanakan, kita implementasikan dalam Gelar Karya ini,” terang Okta
Termasuk seserahan yang sudah dibuat siswa diikutkan dalam prosesi kirab pengantin pria. Sementara untuk souvenir yang sudah dibuat juga dibagikan kepada para tamu yang hadir. Sehingga, kegiatan ini benar-benar merepresentasikan hajat pernikahan pada umumnya.
Okta menyebut, setiap rangkaian dalam adat pernikahan adat Jawa memiliki makna filosofi sendiri-sendiri, termasuk iringan musik atau gending yang dipakai di pernikahan.
Okta mencontohkan, pada prosesi kacar-kucur, mempelai pria memberi penghasilan (kaya) kepada istrinya yang dilambangkan dalam wujud kacang merah, kacang hijau, kacang tanah, kedelai, beras kuning dan logam.
Kaya harus diterima sang istri dengan sapu tangan dan tidak boleh tercecer. Ini lambang bahwa istri harus mampu memanfaatkan secara hemat dan cermat.
“Yang melatarbelakangi P5 pernikahan adat Jawa, karena memang sekarang tradisi Jawa sudah mulai ditinggalkan, termasuk pemahaman anak pada kultur Jawa itu sendiri sangat kurang sekarang. Termasuk membaca tulisan Jawa,” jelas Okta.
Kepala SMPN 16 Purworejo Murniasih, S.Pd., M.M.Pd., menambahkan, dari projek ini ternyata bisa mengintegrasikan beberapa keterampilan dari berbagai mata pelajaran. Seperti keterampilan, kewirausahaan, matematika, seni budaya, bahasa, dan PPKn (UU perkawinan).
Yang diharapkan dengan materi yang sudah didapatkan, kata Murniasih, siswa paling tidak mengenal, kalau bisa melestarikan, kalau bisa mengembangkan. Soal keterampilan-keterampilan yang diberikan, bisa menjadi potensi atau peluang usaha jika siswa nantinya tidak bisa bekerja di sektor formal.
“Tentunya kami ingin membentuk karakter siswa sekaligus mengenalkan adat kebudayaan Jawa yang mulai luntur. Terutama, adat dan tradisi-tradisi mantu Jawa yang perlu dikenali oleh para generasi muda,” pungkas Murniasih. (Jon)





