KORANJURI.COM – Green Islan Bazzar kembali digelar di UID Bali Campus, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali pada 2-3 Mei 2026.
Festival itu menghadirkan beragam kreasi dari para pelaku kuliner di Denpasar, pengrajin handicraft hingga pelaku seni. Para pelaku ekonomi kreatif menyatu dengan budaya dan tradisi lokal.
Event kedua ini, pengelola akan menampilkan sejumlah kegiatan untuk mendukung bazzar hijau tersebut. Seperti, workshop dan pertunjukan, sesi foto busana adat hingga temu komunitas pelaku ekonomi kreatif.
Head of Communications Department Kura Kura Bali Zefri Alfaruqy mengatakan, event tersebut mengusung tema ‘Bali Revival’.
“Ini ditunjukkan dengan aktivitas budaya yang lebih interaktif dan inisiatif ini dirancang untuk mempererat ikatan antara komunitas, pengunjung, dan para kreator lokal,” kata Zefri.
Para pengunjung juga diberikan kesempatan mengabadikan momen dalam balutan busana tradisional berlatar KEK Kura Kura Bali yang unik dan estetis. Pengunjung diajak untuk tampil dalam busana adat Bali terbaik.
Sebagai bentuk apresiasi, pengunjung yang tampil paling ikonik diajak menyusuri kanal Riviera yang romantis dengan Jukung, perahu tradisional khas KEK Kura Kura Bali,” ujarnya.
Selain itu, pengunjung juga dapat mengikuti workshop dan pertunjukan tari Kecak. Para pengunjung bisa merasakan pengalaman interaktif bersama para maestro dari Kevala Ceramics, Museum Pasifika, Sharon Florist, dan deretan kreator lokal lainnya.
“Di Kura Kura Bali, kami terus membangun ruang di mana budaya dan ekonomi tidak sekadar hidup berdampingan, tapi tumbuh bersama,” ujar Zefri.
Konsisten sejak pelaksanaan perdana, Island Bazaar tidak akan menggunakan kemasan plastik. Langkah kecil merupakan upaya KEK Kura Kura Bali dalam menjaga lingkungan.
Salah satu pelaku UMKM dari Serangan yang akan berpartisipasi dalam kegiatan ini adalah Kadek Erni. Ia pemilik Warung Family.
“Island Bazaar menjadi platform penting bagi kami untuk memperkenalkan cita rasa autentik khas Serangan, seperti rujak khas kami,” kata Erni. (*)





