Kisah Supriyati, Warga Kebumen yang Terbebas Biaya Rumah Sakit Berkat Kartu JKN

oleh
Supriyati warga Kebumen - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Meninggalkan hiruk-pikuk rantau di Banten selama 21 tahun untuk kembali ke kampung halaman, Supriyati (46), warga Kebumen, hanya ingin fokus mendampingi keluarga.

Namun, dinamika kehidupan sering kali membawa kejutan medis yang tak disangka-sangka. Beruntung, status kepesertaannya sebagai ibu rumah tangga di segmen Pekerja Penerima Upah (PPU) Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) menjadi penyelamat finansial bagi seluruh generasi di keluarganya.

Pengalaman berat pertama dirasakan Supriyati saat melahirkan. Komplikasi pendarahan pasca melahirkan memaksa dirinya dirawat intensif di RSUD Dr. Soedirman Kebumen untuk menjalani tindakan kuretase.

“Alhamdulillah, pelayanannya baik dan ramah, fasilitasnya juga bagus. Dokter dan perawatnya mantap,” kenang Supriyati tentang momen krusial tersebut, Kamis (22/10/2026).

Bahkan hingga fase kontrol berkala dan pengambilan obat pasca rawat, seluruh rangkaian penanganan dijamin sepenuhnya. Supriyati mengaku bisa bernapas lega dan memusatkan energi hanya untuk pemulihan fisik.

Ujian tak berhenti di situ. Putra kecilnya, Reivandra Alvino Faezya (Vino), mengalami gangguan kesehatan sejak usia 14 bulan akibat demam tinggi dan kejang. Seiring bertambahnya usia, Vino tercatat sudah 7 kali harus menjalani rawat inap di berbagai rumah sakit, termasuk saat terserang pneumonia pada tahun 2025.

Perjuangan mendampingi buah hati di RS Wijayakusuma, RS Permata Medika, hingga RSUD Dr. Soedirman Kebumen dilalui Supriyati tanpa dihantui beban biaya penanganan.

“Anak saya sudah tujuh kali opname. Alhamdulillah, selama mendapatkan pelayanan semuanya baik dan ramah. Seluruh pelayanan dijamin JKN, kami tidak mengeluarkan biaya,” ungkapnya lega.

Tak lama berselang, pada Maret 2025, musibah lain menghampiri sang ayah, Sunaryo (72). Kecelakaan serius membuat Sunaryo mengalami patah pada dua tulang rusuk bagian belakang serta patah tulang kaki.

Penanganan darurat dan tindakan medis—termasuk pemasangan gips di RS PKU Muhammadiyah Sruweng—langsung dilakukan dengan skema kolaborasi penjaminan Jasa Raharja sebagai penjamin utama dan BPJS Kesehatan sebagai penjamin kedua.

Dari perawatan ibu, penanganan anak, hingga tindakan darurat sang ayah, Supriyati menyaksikan sendiri bagaimana Program JKN hadir secara nyata di setiap fase kritis keluarganya. Musibah dan sakit datang tanpa memberikan peringatan terlebih dahulu.

“Dari saya sendiri, anak saya, sampai bapak saya sudah merasakan manfaat JKN. Jadi menurut saya, JKN memang sangat membantu keluarga. Kita tidak pernah tahu kapan akan sakit atau mengalami kejadian yang tidak terduga,” tuturnya.

Melalui rentetan pengalaman hidupnya, Supriyati mengajak masyarakat luas untuk tidak menunda kepesertaan dan memastikan status JKN selalu aktif setiap saat.

“Yang namanya musibah sakit tidak bisa kita prediksi. Jadi lebih baik kita punya jaminan kesehatan dan memastikan kepesertaan tetap aktif. Kalau sudah pernah merasakan manfaatnya seperti saya, tentu kita semakin merasa bahwa JKN itu penting untuk keluarga,” pungkasnya penuh harap.(Jon)