KORANJURI.COM – Hamparan lahan seluas kurang lebih 100 hektare membentang di kawasan pesisir Kabupaten Kendal, Jawa Tengah.
Di atas tanah itulah Lapas Terbuka Kelas IIB Kendal membangun model pembinaan berbasis kemandirian. Namun luasnya lahan tak sebanding dengan kekuatan personel. Lapas ini hanya ditopang 59 petugas dan 37 warga binaan.
“Kekurangan tenaga, itu yang paling terasa,” tegas Kalapas Roni Darmawan, Kamis, 26 Februari 2026.
Sebagai lapas terbuka, hunian ini diperuntukkan bagi warga binaan yang telah melalui asesmen ketat dan dinyatakan layak. Mereka telah melewati penelitian kemasyarakatan serta proses penyaringan dari kantor wilayah.
Secara administratif, seluruhnya memenuhi syarat. Tantangannya terletak pada optimalisasi potensi lahan di tengah keterbatasan SDM dan karakter geografis wilayah pasang surut air laut.
“Alam jadi tantangan utama. Air di sini payau, jadi kami harus menyesuaikan komoditas,” ujar Roni.
Hasil Perikanan
Kondisi air payau mendorong lapas mengembangkan budidaya ikan Nila Salin, varietas yang toleran terhadap kadar garam tinggi.
Produksi sebelumnya sempat menyentuh sekitar 2,6 ton. Namun, hasil tersebut belum sepenuhnya dipasarkan secara luas.
“Untuk sementara untuk memenuhi kebutuhan makan warga binaan melalui vendor penyedia bahan makanan,” jelasnya.
Selain ikan Nila, budidaya bandeng tengah disiapkan karena dinilai lebih adaptif terhadap tambak pesisir. Uji coba komoditas lain seperti Gurame pernah dilakukan, namun tidak optimal akibat kualitas air.
Budidaya udang vename juga sempat berjalan tapi dihentikan setelah terjadi perubahan kondisi lingkungan.
Hasil Panen Perdana Signifikan
Tak hanya perikanan, sektor pertanian mulai menunjukkan hasil konkret. Dari lahan sekitar 9 hektar yang sebelumnya terbengkalai dan dipenuhi semak, kini ditanami padi varietas khusus tahan air payau seluas 1.500 m2.
Panen perdana menghasilkan hampir satu ton gabah.
“Ini padi khusus yang tahan air payau. Kalau padi biasa tidak akan bertahan,” kata Roni.
Ke depan, dari lahan sekitar 9 hektar tersebut akan dikembangkan untuk tanaman melon dan jagung. Prinsipnya sederhana namun strategis, lahan tidur harus hidup dan produktif.
Sebanyak 20 unit greenhouse juga tengah dibangun. Setiap unit ditargetkan mampu menampung hingga 1.000 tanaman Melon.
Program ini menjadi bagian dari penguatan ketahanan pangan yang digagas kementerian terkait. Meski sarana dan alat pertanian masih terbatas, pihak lapas telah berkoordinasi dengan dinas pertanian setempat untuk penyuluhan serta peminjaman peralatan.
“Pelatihan dan pendampingan sangat kami butuhkan. Kami sudah berkoordinasi dengan dinas pertanian,” ujarnya.
Di sektor peternakan, 1.400 bebek petelur berusia sekitar satu bulan tengah dibesarkan. Selain itu terdapat 109 ekor domba dan tujuh ekor sapi.
Lapas juga mendatangkan domba jenis Dorper dari Belanda dan Afrika untuk program persilangan dengan domba lokal.
“Sudah ada 2 pejantan dan 10 betina yang kami datangkan. Ini bagian dari pengembangan peternakan terpadu untuk menghasilkan bibit unggul generasi F1,” ungkap Roni.
Program pembinaan tidak berhenti di dalam area lapas. Untuk pelaku tertentu, terutama first offender dengan ancaman hukuman ringan, diterapkan pidana kerja sosial.
Mereka ditempatkan di tempat ibadah atau instansi pemerintah untuk kerja sosial tanpa upah dengan pengawasan ketat.
Pengembangan Lapas Terbuka Kelas IIB Kendal disebut mulai mendapat perhatian serius sejak era Kakanwil Ditjenpas Jawa Tengah, Mardi Santoso.
Dukungan tersebut memperkuat arah transformasi lapas terbuka menjadi pusat pembinaan produktif berbasis agrikultur pesisir.
Namun di balik berbagai program yang berjalan, perikanan, pertanian, peternakan hingga greenhouse, catatan krusial tetap ada. 100 hektare lahan membutuhkan lebih dari sekadar semangat. Tanpa tambahan tenaga dan dukungan sarana memadai, potensi besar tersebut berisiko berjalan setengah hati.
Di tengah keterbatasan, Lapas Terbuka Kendal memilih bergerak. Bukan sekadar menjaga warga binaan, tetapi menanam, memelihara, dan memanen harapan, agar pembinaan tak berhenti di balik jeruji, melainkan tumbuh menjadi kemandirian nyata. (*/Thalib)





