KORANJURI.COM – Setelah hampir empat tahun tanpa aktivitas, Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Sejarah SMK Kabupaten Purworejo kembali menggeliat.
Pertemuan perdana yang berlangsung di Aula SMK Kesehatan Purworejo pada Sabtu (14/02/2026) ini memiliki agenda utama reorganisasi dan menyatukan persepsi pembelajaran sejarah yang kolaboratif bagi siswa SMK.
Kegiatan ini dihadiri oleh perwakilan guru sejarah dari sekitar 40 SMK se-Kabupaten Purworejo. Selain sebagai ajang silaturahmi, pertemuan ini menjadi momentum penting untuk menjawab tantangan pembelajaran sejarah di era Gen Z.
Ketua MGMP Sejarah SMK Kabupaten Purworejo, Setiawan Adi Nugroho, S.Pd, Gr., menjelaskan bahwa agenda utama hari ini adalah menghidupkan kembali organisasi yang sudah lama pasif.
“Kegiatan pertama adalah reorganisasi karena sudah lama tidak ada kegiatan. Kedua, kami melakukan penyamaan persepsi materi. Selama ini, Bapak/Ibu guru belum memiliki panduan atau pegangan yang pas dalam mengajar sejarah khusus SMK,” ujar Setiawan.
Ia menambahkan, tantangan terbesar adalah banyaknya pengajar sejarah yang latar belakang pendidikannya bukan dari jurusan Sejarah. Oleh karena itu, MGMP Provinsi turut mensosialisasi buku panduan khusus yang relevan dengan kurikulum SMK agar proses belajar mengajar tidak terkendala.
Hadir sebagai narasumber sekaligus Dewan Pengarah MGMP Sejarah, Dra. Nuryati, M.Pd., menekankan bahwa metode pengajaran sejarah di SMK tidak bisa disamakan dengan SMA. Dengan keterbatasan jam pelajaran, hanya dua jam di kelas X dan XI, guru dituntut lebih kreatif.
“Sejarah SMK harus dikemas secara kolaboratif. Artinya, memadukan materi sejarah dengan konsentrasi keahlian siswa yang beragam di SMK,” jelas Nuryati.
Ia berharap penyamaan persepsi mengenai Capaian Pembelajaran (CP) di Purworejo ini bisa menjadi standar bagi kabupaten lain.
Dukungan penuh datang dari Kepala SMK Kesehatan Purworejo, Nuryadin, S.Sos., M.Pd. Selaku tuan rumah dan anggota MKKS, ia menilai guru sejarah adalah ujung tombak dalam menjaga jati diri bangsa di tengah arus globalisasi.
“Tantangan sekarang adalah menghadapi Gen Z. Dibutuhkan inovasi dan teknologi agar sejarah menjadi pelajaran yang menarik dan bermakna,” kata Nuryadin.
Mengutip pesan Bung Karno tentang Jasmerah (Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah), Nuryadin berharap guru sejarah mampu mencetak siswa yang hebat dan berwawasan global namun tetap mengakar pada sejarah nenek moyangnya.
“Kita ingin anak-anak yang go international, tapi tidak kehilangan jati dirinya sebagai orang Indonesia,” pungkasnya. (Jon)





