KORANJURI.COM – SMK Nurussalaf Kemiri, Purworejo, melakukan langkah serius dalam mengembangkan bakat olahraga siswanya. Tak tanggung-tanggung, sekolah ini mendatangkan pelatih sepak bola nasional dari PPLOP (Pusat Pendidikan dan Latihan Olahraga Pelajar) Jawa Tengah, Andreas Tri Widagdo, S.Pd., untuk memberikan pelatihan intensif serta motivasi bagi para siswa pada tanggal 6-8 Februari 2026.
Kepala SMK Nurussalaf Kemiri, Drs. MGS. Sukusyanto, M.M., mengungkapkan bahwa kehadiran pelatih profesional ini merupakan upaya sekolah untuk menciptakan branding khusus melalui cabang olahraga sepak bola.
“Kami ingin anak-anak memiliki motivasi lebih dan kemampuan yang terarah. Selama ini mereka bermain secara otodidak. Dengan hadirnya pelatih dari PPLOP Jawa Tengah ini, kami ingin ada sentuhan profesional dan ciri khas dalam pola permainan mereka,” ujar Sukusyanto di sela-sela agenda uji tanding antara guru dan siswa, Sabtu (07/02/2025) di alun-alun Kemiri.
Selain untuk meningkatkan prestasi di ajang Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) yang akan digelar akhir April mendatang, pelatihan ini juga menjadi langkah awal menuju pembentukan Kelas Khusus Olahraga (KKO) di SMK Nurussalaf.
“Saya sudah berdiskusi dengan Waka Kurikulum mengenai rencana pembentukan KKO ke depannya. Kami ingin SMK Nurussalaf punya keunggulan khusus. Minimal setahun sekali, kami akan rutin mengundang pelatih luar seperti Coach Andreas untuk menjaga kualitas tersebut,” tambah Sukusyanto yang juga dikenal memiliki hobi dan latar belakang sepak bola.
Sementara itu, Andreas Tri Widagdo, pelatih berlisensi B AFC yang sehari-harinya membina atlet di PPLOP Jawa Tengah, memberikan materi yang komprehensif selama tiga hari pelatihan. Mengacu pada kurikulum Filanesia (Filosofi Sepak Bola Indonesia), ia menekankan pemahaman taktik bagi siswa usia SMK.
“Untuk anak usia 17 tahun yang mendekati jenjang profesional, saya menekankan pada three moments dalam sepak bola: bagaimana tim menyerang, bertahan, dan melakukan transisi baik positif maupun negatif,” jelas Andreas.
Meski mengakui bahwa teknik dasar siswa yang tidak melalui jalur Sekolah Sepak Bola (SSB) masih menjadi pekerjaan rumah, Andreas mengapresiasi semangat 25 siswa peserta ekstrakurikuler tersebut.
“Saya membantu memperbaiki passing, first touch, hingga shooting mereka. Potensi di Purworejo sebenarnya sama besar dengan daerah lain. Jika pembinaan melalui ekstrakurikuler atau KKO ini berjalan konsisten, sepak bola di Purworejo akan memiliki warna baru yang lebih berkualitas,” pungkasnya. (Jon)





