Berobat Kanker dan Jantung Gratis, Ibu di Kebumen Bongkar Pengalaman Pakai JKN

oleh
Ibu Suharti, pasien JKN Kebumen gunakan aplikasi Mobile JKN - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Bagi Suharti (58), warga Desa Grenggeng, Kecamatan Karanganyar, Kebumen, kesehatan bukan sekadar angka di atas kertas medis, melainkan perjuangan hidup dan mati. Di usia senjanya, ia dipaksa menghadapi “badai” ganda, kanker payudara dan penyakit jantung.

Namun, alih-alih menyerah pada keadaan atau terpuruk karena biaya, Suharti justru menemukan secercah harapan yang membuatnya tetap tegak berdiri.

Sebagai peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) segmen Penerima Bantuan Iuran (PBI), Suharti mengaku tidak mengeluarkan biaya sepeser pun untuk pengobatan kelas berat yang dijalaninya.

“Pengobatan kanker dan jantung itu biayanya luar biasa besar. Jika tanpa JKN, saya tidak tahu harus bagaimana,” ungkap Suharti dengan mata berkaca-kaca, Rabu (29/04/2026).

Baginya, program ini adalah pemutus rantai kecemasan. Ia tak lagi harus pusing memikirkan tagihan rumah sakit yang menghantui, sehingga energinya bisa fokus sepenuhnya pada proses pemulihan.

Seringkali muncul anggapan bahwa pasien gratisan akan mendapat perlakuan berbeda. Namun, Suharti mematahkan stigma tersebut. Selama menjalani perawatan, ia merasakan layanan yang profesional, sistematis dan yang terpenting, manusiawi.

“Dari senyum perawat hingga ketelitian dokter, semuanya dilakukan tanpa diskriminasi. Saya merasa dimanusiakan,” tambahnya.

Lingkungan rumah sakit yang kondusif perlahan menghapus rasa takutnya setiap kali jadwal kontrol tiba.

Meski sudah tidak muda lagi, Suharti tak gagap teknologi. Berkat aplikasi Mobile JKN, ia tidak perlu lagi melakukan ritual “antre subuh” yang melelahkan fisik. Fitur Antrean Online, menjadi penyelamat bagi fisiknya yang terbatas.

Secara real time, dia bisa memantau nomor antrean dari rumah dan berangkat saat waktunya sudah dekat sehingga tidak ada lagi waktu terbuang di ruang tunggu yang padat.

Baginya, JKN adalah bukti nyata kehadiran negara yang memberikan kesempatan kedua untuk hidup lebih tenang.

Kisah inspiratif Suharti ini menjadi bukti nyata komitmen BPJS Kesehatan dalam menghadirkan layanan yang inklusif.

Kepala BPJS Kesehatan Cabang Kebumen, Dina Diana Permata, menegaskan bahwa transformasi digital adalah kunci masa depan layanan kesehatan.

“Kami menempatkan transformasi layanan yang cepat, mudah, dan setara sebagai prioritas utama. Tidak boleh ada sekat diskriminasi. Setiap peserta berhak mendapatkan kualitas perawatan yang sama baiknya,” tegas Dina.

Melalui semangat gotong royong, program JKN kini bukan lagi sekadar asuransi kesehatan, melainkan jembatan bagi masyarakat kecil untuk mendapatkan kesempatan kedua dalam hidup, persis seperti yang dirasakan oleh Ibu Suharti. (Jon)