Dukung Kreatifitas Pemuda, KEK Kura Kura Bali Sukses Gelar Festival Penjor Serangan

oleh
Penjor berderet di halaman Pura Sakenan Denpasar usai penilaian Serangan Penjor Festival III - foto: Ist.

KORANJURI.COM – Festival Penjor ketiga Desa Serangan mengusung semangat pelestarian budaya. Festival itu digelar untuk menyambut Puja Wali Pura Dalem Sakenan serta Hari Raya Galungan dan Kuningan.

Kesuksesan perhelatan ini menjadi wujud dari sinergi yang terus dibangun antara PT Bali Turtle Island Development (BTID) selaku pengelola Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali dan Yowana (pemuda-pemudi) dari banjar adat di Desa Serangan.

BERITA TERKAIT
Butuh Waktu Berbulan-bulan dan Biaya Jutaan Rampungkan Penjor Megah untuk Festival

Kreasi Penjor dari Banjar Dukuh, Peken, Ponjok, Kawan, dan Kaja teguh memegang pakem filosofis yang melambangkan ungkapan rasa syukur dan kemakmuran kepada alam semesta.

Salah satu panitia acara Festival Penjor Ni Putu Sherinita dari Banjar Kawan mengatakan, dibandingkan tahun lalu, festival kali ini terasa berbeda.

“Kalau yang serunya di tahun ini itu, yang jadi panitia itu dari kami sendiri, dari Sekaa Teruna Teruni (STT). Yang buat seru itu karena kami STT, bersama-sama mengerjakannya,” ujar Sherin, Kamis, 25 Juni 2026.

Penilaian dilakukan oleh adapun 3 juri dari Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, praktisi seni dari Ubud, dan Desa Kesiman.

Dalam lomba itu, ST. Panca Yasa dari Banjar Ponjok keluar sebagai peraih juara pertama. Sedangkan, juara kedua diraih oleh ST. Satya Hredaya dari Banjar Dukuh dan juara ketiga ST. Satya Witra dari Banjar Kawan.

Semangat pelestarian budaya ini, kata Jro Bendesa Desa Adat Serangan I Nyoman Gede Pariatha, menunjukkan kesungguhan mereka dalam mengadakan hingga mengikuti lomba Penjor tersebut.

“Jadi mereka betul-betul ingin menampilkan kebolehannya dalam festival ini, betul-betul bagaimana mereka ingin menunjukkan yang terbaik. Persiapannya juga cukup lama ya, ada yang sebulan, ada yang dua bulan, sudah ada bambunya di banjar masing-masing, sudah ada persiapannya,” kata Pariatha.

Festival itu terselenggara atas kolaborasi Desa Adat dan BTID.

“Awalnya ini kan BTID sebagai penyelenggara, yang punya inisiatif, jadi kita di desa adat ya mendorong dan mendukung termasuk pendanaan dari desa adat kemarin. Jadi kita di desa adat dari awal, dana operasional kita dukung di situ,” kata Gede Pariatha.

Kepala Departemen Komunikasi BTID Zefri Alfaruqy mengatakan, pelibatan yowana dari Desa Serangan sebagai panitia, menjadi upaya BTID memberdayakan dan mengasah kreativitas para muda-mudi.

“Melihat dedikasi dan hasil kerja keras teman-teman Yowana hari ini, rasanya sungguh terharu dan membanggakan,” kata Zefri.

Festival itu menjadi panggung pembuktian kreativitas mereka. Sekaligus, merupakan salah satu wujud aplikatif dari program Creative Event Management Lab yang dirancang KEK Kura Kura Bali bersama dengan UID Bali Campus.

Inisiatif ini mencakup berbagai perencanaan dan pengelolaan dalam penyelenggaraan suatu acara.

Program ini digagas secara khusus untuk berkolaborasi dengan pemuda pemudi Desa Serangan dalam rangka mengembangkan potensinya sebagai Desa Wisata perintis.

“Kami berharap kehadiran KEK Kura Kura Bali bisa terus tumbuh berdampingan dengan masyarakat. Harapan terbesarnya, bekal pengalaman langsung ini bisa menjadi pondasi agar generasi muda siap berdiri secara mandiri, dan menjadi tuan rumah yang berdaya di desanya,” jelas Zefri. (*/Way)