Bekali Calon Perawat Kompetensi Kegawatdaruratan, STIKes Pemkab Purworejo Gelar Pelatihan BTCLS

oleh
Mahasiswa D3 Keperawatan STIKes Pemkab Purworejo saat mengikuti simulasi dalam pelatihan BTCLS - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Sebagai upaya mencetak lulusan yang tanggap, sigap, dan siap kerja di dunia medis, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Pemkab Purworejo kembali menggelar pelatihan Basic Trauma Cardiac Life Support (BTCLS).

Kali ini, pelatihan diikuti oleh total 95 mahasiswa yang dibagi ke dalam dua gelombang pelaksanaan. Gelombang pertama diikuti oleh 49 mahasiswa pada 6–12 Juli 2026, disusul gelombang kedua yang diikuti oleh 46 mahasiswa pada 14–19 Juli 2026.
Dalam pelaksanaannya, STIKes Pemkab Purworejo kembali menggandeng mitra tepercaya yang telah menjadi langganan, yakni tim MST 119.

Ketua Panitia Pelatihan BTCLS STIKes Pemkab Purworejo, Zeni Toyyibatus Sa’diyah, A.Md.Kep., menjelaskan bahwa kegiatan wajib tahunan bagi mahasiswa tingkat akhir program studi D3 Keperawatan ini menjadi syarat mutlak untuk menembus dunia kerja di rumah sakit.

“Materi teori diberikan selama tiga hari secara daring melalui Zoom. Meski daring, mahasiswa tetap diwajibkan datang ke kampus agar proses belajar tetap terpantau dan konsentrasi mereka terjaga,” ujar Zeni, Rabu (15/07/2026).

Setelah membekali diri dengan teori, para peserta langsung diterjunkan dalam praktik lapangan selama tiga hari penuh. Materi praktis yang diajarkan meliputi penanganan pasien henti napas dan henti jantung (RJP), penanganan gigitan ular, pembacaan elektrokardiogram (EKG/rekam jantung), teknik evakuasi pasien cedera, pembidaian fraktur, hingga metode penilaian taktis (assessment) serta Triage (pemilahan pasien berdasarkan prioritas kegawatdaruratan merah, kuning, hijau, dan hitam).

Menariknya, pada hari ketiga praktek, setiap gelombang, mahasiswa diuji melalui simulasi kasus berskala besar.

“Pada gelombang pertama kemarin, kami telah melaksanakan simulasi kecelakaan lalu lintas beruntun. Melalui kegiatan ini, para mahasiswa dilatih secara langsung untuk melakukan penanganan korban di lapangan, menentukan prioritas evakuasi melalui sistem triage, hingga memberikan penanganan medis yang tepat mulai dari tempat kejadian perkara (TKP) hingga korban tiba di rumah sakit”, tambah Zeni.

Ada yang berbeda pada pelaksanaan BTCLS tahun ini dibanding tahun-tahun sebelumnya. Jika biasanya pelatihan digelar sebelum mahasiswa melakukan praktik klinik kegawatdaruratan, kali ini panitia sengaja membalik jadwal tersebut.

Langkah taktis ini diambil dengan pertimbangan matang. Selain karena masa berlaku sertifikat BTCLS yang terbatas (hanya 3 tahun) mahasiswa yang telah menyelesaikan praktik klinik dinilai sudah memiliki modal pengalaman riil.

Melalui pelatihan ini, mereka tinggal memantapkan dan mengimplementasikan ilmu yang sudah didapat di lapangan sebagai bekal masuk kerja.

Sebagai pemacu semangat, panitia juga menyiapkan apresiasi bagi peserta terbaik. Peringkat 1, 2, and 3 akan mendapatkan bingkisan menarik. Lebih istimewa lagi, peraih juara 1 akan mendapatkan bonus pelatihan Advanced Cardiac Life Support (ACLS) gratis.

“Khusus untuk juara 1, akan mendapatkan free pelatihan ACLS via Zoom beserta sertifikat tambahannya. ACLS ini sangat penting karena berfokus pada spesifikasi penanganan klinis jantung dan pembacaan EKG yang lebih mendalam,” papar Zeni.

Sertifikat BTCLS yang diperoleh nantinya akan menjadi Lampiran Ijazah (SKPI) yang sangat berharga. Mengingat hampir seluruh rumah sakit saat ini mewajibkan kepemilikan sertifikat BTCLS bagi tenaga perawat baru, pelatihan ini menjadi modal penting.

“Harapan kami, lulusan keperawatan STIKes Pemkab Purworejo benar-benar menjadi perawat yang tanggap. Begitu mereka dihadapkan pada situasi gawat darurat di tempat kerja maupun di masyarakat, mereka tidak panik, langsung sigap, dan tahu persis prosedur penanganan yang benar,” pungkasnya. (Jon)