Hebat! Mahasiswa STIKes Pemkab Purworejo Sabet Perak di Ajang WICE Malaysia

oleh
Ketiga mahasiswa STIKes Pemkab Purworejo dan dosen pembimbing saat di Malaysia - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Prestasi gemilang kembali ditorehkan oleh dunia pendidikan tinggi kesehatan Indonesia di kancah internasional.

STIKes Pemkab Purworejo sukses membanggakan almamater setelah delegasi mahasiswanya berhasil menyabet medali silver (perak) dalam ajang bergengsi World Invention Competition and Exhibition (WICE) yang diselenggarakan di Segi University, Petaling Jaya, Selangor, Malaysia.

Ajang internasional ini diikuti oleh peserta dari lima negara, yakni Malaysia, Indonesia, Bangladesh, Thailand, dan Meksiko.

Dalam kompetisi tersebut, delegasi STIKes Pemkab Purworejo yang terdiri dari dua tim mengirimkan perwakilan mahasiswa lintas prodi di bawah bimbingan dosen Emerita, S.Kep., Ns., M.Kep.

“Alhamdulillah mahasiswa kita sukses mempresentasikan karya inovatif di bidang IT and Robotics,” jelas Emerita, Rabu (23/09/2026).

Adapun tiga mahasiswi berprestasi yang mewakili institusi tersebut adalah Keyko Safira Raudatunissa (Prodi D3 Keperawatan), Karin Putri Pratama (Prodi S1 Keperawatan) dan Davina Putri Kirani (Prodi S1 Administrasi Rumah Sakit)

Meski sempat terkendala waktu persiapan yang mepet dan harus pulang lebih awal ke Indonesia karena berbenturan dengan agenda Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB), tim berhasil memukau dewan juri melalui pemaparan karya tulis ilmiah (paper presentation).

Tim pertama mengembangkan aplikasi berbasis teknologi bertajuk AirGuard. Aplikasi ini dirancang sebagai inovasi untuk meningkatkan kesadaran publik (risk awareness) sekaligus langkah preventif menekan risiko penyakit ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Atas).

“Jadi kami bikin aplikasi untuk mengedukasi mereka tentang bahayanya ISPA. Itu pakai tiga komponen, yaitu kualitas udara, temperatur, dan kelembaban udara,” ungkap Keyko menjelaskan aplikasi tersebut, saat mendampingi Emerita bersama Karim dan Davina.

Sementara itu, tim kedua mengembangkan konsep inovasi ramah lingkungan bernama Eco-Hospital. Ide ini dilatarbelakangi oleh tingginya volume limbah sisa makanan pasien di rumah sakit yang selama ini kerap menjadi beban biaya pembuangan.

Melalui sistem pemindaian cerdas (scanning) pada waiters, sisa makanan tersebut dapat dikelola atau diolah kembali menjadi pupuk kompos yang terintegrasi dengan teknologi IoT Smart Farming untuk kebun rumah sakit.

“Jadi seperti mendaur ulang kembali sisa-sisa makanan itu agar dapat digunakan kembali dan menjadi inovasi baru dari sampah tersebut,” jelas Davina dan Karin terkait proyek Eco-Hospital.

Emerita menyampaikan rasa bangganya atas pencapaian internasional secara offline ini setelah sebelumnya sempat meraih prestasi serupa secara daring.

Pihak kampus, termasuk Ketua STIKes Pemkab Purworejo Bapak Wahid, kata Emerita, memberikan dukungan penuh agar inovasi berupa flowchart dan mock-up aplikasi ini dapat dikembangkan lebih lanjut hingga tahap pembuatan produk nyata dan dipatenkan.

“Keberhasilan ini tidak hanya mendongkrak prestasi akademik mahasiswa dan institusi, tetapi juga memberikan kontribusi nyata dalam menunjang akreditasi program studi di lingkungan STIKes Pemkab Purworejo,” ujar Emerita.

Harapannya, pungkas Emerita, keikutsertaan dalam ajang riset internasional ini dapat terus dirutinkan setiap tahunnya guna melahirkan inovasi-inovasi solutif bagi masyarakat luas.(Jon)