SMK YPP Purworejo Bekali Siswa dengan Mitigasi Bencana dalam Ketarunaan

oleh
Siswa SMK YPP Purworejo tengah praktek menangani kebakaran dalam Mitigasi Bencana pada kegiatan Ketarunaan - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Suasana lapangan Aguna SMK YPP Purworejo tampak berbeda dan penuh antusiasme pada Kamis (03/09/2026).

Sekolah kejuruan ini sukses menggelar simulasi mitigasi bencana dalam penanganan kebakaran sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Ketarunaan tahun ajaran 2026/2027 ini.

Kegiatan Ketarunaan yang mengangkat tema “Bangunlah Jiwa dan Raga, Jiwaku Sehat Ragaku Kuat” tersebut menghadirkan narasumber ahli dari Satpol PP dan Damkar Kabupaten Purworejo, Plt Kasi PPI Tri Setiyono bersama jajarannya.

Kepala SMK YPP Purworejo, Mugi Widodo, S.Pd., M.Pd., menyampaikan bahwa pembinaan karakter melalui program ketarunaan dirancang secara komprehensif.

“Aspek utamanya mencakup kesehatan fisik, rohani, pembinaan disiplin (binsik), hingga penerapan pola hidup sehat bekerja sama dengan Puskesmas,” jelas Mugi Widodo di sela kegiatan.

Disampaikan pula bahwa mitigasi bencana merupakan salah satu poin penting dalam instrumen penilaian akreditasi sekolah, karena itu harus dilaksanakan.

Melalui pembekalan intensif ini, ujar Mugi, pihak sekolah berharap seluruh siswa SMK YPP Purworejo memiliki kewaspadaan tinggi, fisik yang tangguh, serta kesiapsiagaan penuh dalam menghadapi potensi kebencanaan di lingkungan sekolah maupun masyarakat luas.

Hal senada juga dipertegas oleh Waka Kesiswaan SMK YPP Purworejo, Abdul Karim, S.Pd. Ia menjelaskan bahwa program ketarunaan merupakan agenda rutin tahunan yang kini semakin diperkaya dengan menggandeng berbagai instansi eksternal lintas sektoral.

“Tujuan utama dari ketarunaan ini adalah pembentukan karakter peserta didik agar memiliki jiwa yang kuat serta membekali siswa dengan ilmu tambahan di luar pembelajaran formal, mengingat mereka adalah calon pemimpin masa depan,” ungkap Abdul Karim.

Pada tahun ini, materi yang diberikan jauh lebih beragam. Selain dari Yonif 412 dan Depag yang fokus pada wawasan kebangsaan dan peningkatan iman dan taqwa, siswa juga mendapat pembekalan dari Diskominfo terkait etika bermedia sosial dan UU ITE, materi tertib berlalulintas dari Polres, pembinaan keagamaan oleh FKUB, hingga mitigasi bencana langsung dari Satpol PP dan Damkar.

Bersama Satpol PP dan Damkar, puncak acara yang paling menyita perhatian siswa adalah sesi simulasi di lapangan terbuka.

“Kegiatan Ketarunaan ini diikuti siswa kelas X dan XI yang pelaksanaannya dibagi menjadi dua sesi, masing-masing dua pekan. Untuk kelas X dimulai 26 Agustus hingga 4 September 2026, yang dilanjutkan kelas XI di minggu berikutnya,” jelas Abdul Karim.

Plt Kasi PPI Satpol PP dan Damkar Purworejo, Tri Setiyono, memimpin langsung pelatihan praktis penanganan darurat yang dihadiri oleh 5 personel.

Dalam arahannya, Tri Setiyono menekankan pentingnya edukasi dini bagi anak-anak agar mereka memahami cara mengoperasikan alat pemadam secara tepat.

“Anak-anak perlu mengetahui alat-alat yang digunakan untuk pemadaman kebakaran agar mereka paham cara mengoperasikannya. Jika terjadi kejadian di lingkungan sekitar, mereka sudah tahu cara melapor kepada orang dewasa dan menggunakan APAR dengan benar,” ujar Tri Setiyono saat memberikan materi di hadapan para siswa.

Beberapa poin penting yang diajarkan dalam sesi tersebut meliputi teknik dasar dan praktek penggunaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR), pemadaman api secara tradisional dengan teknik pemadaman manual menggunakan karung goni basah, serta penanganan kebocoran gas yang disimulasikan langsung cara mengatasi kebocoran tabung gas LPG secara aman di rumah maupun sekolah.

Dari hasil evaluasi kegiatan mitigasi tersebut, pihak Damkar dan sekolah mencatat beberapa catatan penting demi meningkatkan standar keselamatan (safety).

“Perlunya peremajaan alat keselamatan utk unit APAR di lingkungan sekolah dan optimalisasi jalur evakuasi,” sebut Tri.

Mengingat aktivitas sekolah yang padat dan gedung bertingkat, terang Tri, ke depannya simulasi evakuasi bencana, baik kebakaran ataupun gempa, harus mencakup penanganan darurat dari lantai atas (lantai dua), lengkap dengan pembagian tugas yang jelas seperti petugas penghubung darurat dan pengarah jalur evakuasi. (Jon)