Solusi Murah Ubah Sampah Jadi Berkah, DLHP Purworejo Gagas Inovasi LEPAS

oleh
Kegiatan Layanan Edukasi Pengelolaan Sampah (LEPAS) di TPA Jetis, Kecamatan Loano, Kamis (25/06/2026) oleh DLHP Purworejo - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Masalah penumpukan sampah di tempat pembuangan akhir kini coba diurai lewat formula baru yang lebih bernilai ekonomi.

Dinas Lingkungan Hidup dan Perikanan (DLHP) Kabupaten Purworejo resmi meluncurkan program Layanan Edukasi Pengelolaan Sampah (LEPAS) di TPA Jetis, Kecamatan Loano, Kamis (25/06/2026).

Langkah inovatif ini digulirkan bukan sekadar untuk menekan volume pembuangan, melainkan untuk mengubah pola pikir masyarakat agar mampu menyulap limbah domestik menjadi sumber berkah dan bernilai ekonomi produktif.

Aksi lintas sektor yang dihadiri berbagai dinas seperti Dinkominfostasandi, Dindikbud, Dinkesda, hingga tokoh masyarakat ini menekankan satu poin penting, tata kelola sampah adalah tanggung jawab bersama.

Sekretaris DLHP Kabupaten Purworejo, Ir. Adjie Nur Hidajat, S.T., M.T., menegaskan bahwa tantangan terbesar saat ini berada pada edukasi publik.

“Masyarakat perlu tahu bahwa sampah, khususnya organik, punya manfaat ekonomi produktif. TPA seharusnya hanya jadi alternatif paling akhir. Penanganan utama harus digalakkan dari hulu, lewat pemilahan dari rumah dan kantor masing-masing,” ujar Adjie.

Kondisi lahan TPA yang kian terbatas serta anggaran daerah yang dinamis menuntut adanya strategi yang tak hanya murah, tapi juga berdampak masif.

Kabid Pengelolaan Persampahan DLHP Purworejo, Sigit Heru Waluyo, SKM., menyebut LEPAS sebagai metode edukasi simpel yang mampu memperpanjang umur pakai TPA.

“Setiap individu adalah penghasil sampah. Sampah tidak boleh dibiarkan terus menumpuk, harus dikelola secara organik agar barang yang dianggap tidak berguna bisa memiliki daya guna kembali,” jelas Sigit.

Dalam kegiatan ini, para peserta diajak melihat langsung realita di TPA Jetis sekaligus dibekali keterampilan praktis untuk memproduksi komoditas bernilai guna tinggi dari sampah, antara lain pembuatan Kompos dengan mengubah sampah organik menjadi pupuk padat penyubur tanaman, Eco Enzyme & POC dengan memanfaatkan sisa buah dan sayur menjadi cairan serbaguna dan Pupuk Organik Cair serta Resapan Biopori (solusi pencegah genangan sekaligus pabrik kompos alami di pekarangan) hingga Budidaya Maggot BSF (Black Soldier Fly) yakni mengurai sampah organik secara kilat sekaligus menjadi pakan ternak berprotein tinggi.

Ke depan, DLHP Purworejo akan menggandeng seluruh elemen mulai dari pihak sekolah, penggerak PKK, komunitas, hingga Ibu Rumah Tangga (IRT). Melalui sinergi hulu-hilir ini, diharapkan volume residu dan polusi yang berakhir di TPA dapat dipangkas secara signifikan langsung dari dapur masyarakat. (Jon)