KORANJURI.COM – Mengingat potensi ancaman bencana alam seperti megathrust yang membayangi wilayah pesisir selatan Jawa, Program Studi Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Purworejo (UMPWR) mengambil langkah konkret dengan menggelar simulasi evakuasi bencana gempa bumi di area kampus, Rabu (22/07/2026).
Kegiatan ini merupakan bentuk implementasi praktis dari mata kuliah Manajemen Kebencanaan guna membentuk budaya kesiapsiagaan di lingkungan akademis.
Dosen Teknik Sipil UMPWR sekaligus pengampu mata kuliah Manajemen Kebencanaan, Nurmansyah Alami, M.T., menjelaskan bahwa posisi geografis Purworejo yang berada di zona rawan gempa menuntut civitas akademika untuk tidak sekadar paham teori, melainkan siap secara tindakan (siap untuk selamat).
“Purworejo merupakan salah satu daerah rawan gempa. Para ahli sudah sering mengingatkan keberadaan potensi megathrust. Itu bukan sekadar cerita, tapi fakta ilmiah. Melalui simulasi ini, kami mengenalkan tata cara evakuasi secara langsung kepada mahasiswa dan seluruh masyarakat kampus,” ujar Nurmansyah saat ditemui di lokasi kegiatan.
Dalam simulasi tersebut, pengelola menyusun skenario menyeluruh yang melibatkan tiga kelompok mahasiswa sesuai bidang perannya masing-masing, mencakup fase pra-bencana, tanggap darurat, hingga pasca-bencana.
Dari mahasiswa Teknik Sipil (Pra-Bencana), berperan merancang tata jalur evakuasi, penempelan petunjuk arah, penentuan titik kumpul (assembly point), serta pemahaman desain bangunan ramah dan aman bencana.
Dari Mapala Suri & UKM KSR (Tanggap Darurat), bertugas melakukan proses pencarian, penyelamatan, dan evakuasi korban secara cepat saat bencana terjadi.
Sedangkan bagi Komunitas Psikososial (Pasca-Bencana), bertanggung jawab memberikan pertolongan pertama pada penanganan trauma (trauma healing) pasca-kejadian.
“Tiga komponen ini kami kolaborasikan agar mahasiswa mendapatkan pengalaman nyata. Kita memang tidak bisa menghindari bencana, tetapi kita bisa mengurangi risikonya. Jika bencana terjadi, semua pihak sudah tahu fungsi dan tugasnya,” tegasnya.
Kegiatan yang berlangsung selama satu hari ini diisi dengan pemasangan stiker petunjuk arah evakuasi di titik-titik strategis gedung kampus dan dilanjutkan simulasi penyelamatan diri saat terjadi guncangan.
Harapan besarnya, simulasi ini dapat mentransformasi UMPWR menjadi kampus yang aman dari ancaman kebencanaan. Ke depan, pihak program studi juga merencanakan simulasi lanjutan terkait penanganan kebakaran dengan melibatkan instansi terkait seperti BPBD dan Pemadam Kebakaran (Damkar).
“Kami ingin menyadarkan masyarakat kampus bahwa kita hidup di wilayah rawan bencana. Kita tidak bisa menghindar, tetapi kita bisa belajar hidup berdampingan secara aman dengan tahu cara mengevakuasi diri sendiri maupun orang lain,” pungkas Nurmansyah. (Jon)





