CHANDI 2025: Perajin Batik Laweyan Kenalkan Proses Pembuatan Batik Tulis

oleh
Forum Kebudayaan Internasional Culture, Heritage, Art, Narrative, Diplomacy, and Innovation (CHANDI) 2025 di The Meru, Sanur, mengenalkan proses pembuatan batik tulis kepada delegasi dari 40 negara, Kamis, 4 September 2025 - foto: Ist.

KORANJURI.COM – Perajin batik asal Laweyan, Surakarta Muhammad Taufan Wicaksono dan Muhammad Rizqi Darmawan, memandu lokakarya proses produksi batik tulis kepada delegasi CHANDI 2025 di The Meru Sanur, Denpasar, Kamis, 4 September 2025.

Dalam sesi itu, Taufan memperkenalkan alat utama untuk membuat batik yakni Canting. Alat itu seperti peralatan tulis yang punya wadah malam atau lilin batik.

Malam atau lilin batik ini selalu dalam kondisi cair untuk menutup area motif sebelum proses pencelupan warna. Malam sendiri merupakan bahan padat menyerupai lilin dan beraroma khas.

“Ibaratnya kalau kita menulis, ini seperti pensilnya. Kita akan menorehkan lilin yang dipanaskan ini di atas kain. Setelah mencanting akan ada proses coloring menggunakan pewarna remasol,” kata Taufan, perajin Batik Mahkota Laweyan.

Taufan menjelaskan kepada 38 peserta yang hadir untuk berhati-hati dalam proses
pencantingan. Jika terjadi kesalahan dalam proses ini, maka akan berpengaruh terhadap hasil pewarnaan.

Para peserta selanjutnya dipandu untuk menorehkan malam panas diatas sehelai kain menggunakan canting. Di kain Mori putih sudah terdapat pola jenis batik. Selanjutnya kain yang telah dicanting diberi warna dengan teknik colet.

Fine, salah seorang peserta asal Maluku mengungkapkan, pengalaman membatik tidak semudah yang dibayangkan.

“Ketika kita melihat pembatik, rasanya seperti mudah sekali. Tapi ketika kita praktik, ternyata tidak semudah yang kita lihat,” ujar Fine.

Batik, salah satu wastra nusantara sudah diakui UNESCO sebagai warisan budaya tak benda pada 2 Oktober 2009. Tanggal itu kemudian diperingati sebagai hari Batik Nasional. (Way)