KORANJURI.COM– Transformasi pemasyarakatan yang digaungkan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas) terus menunjukkan hasil nyata.
Tak hanya fokus pada pembinaan warga binaan, jajaran pemasyarakatan kini mampu menghadirkan manfaat langsung bagi masyarakat melalui program sosial yang dibiayai dari hasil kerja dan produktivitas warga binaan.
Hal itu terlihat dalam kegiatan Bakti Sosial Bedah Rumah dan Tempat Ibadah serta Optimalisasi Sarana Asimilasi dan Edukasi Berkah Mandiri yang digelar di Pondok SAE Berkah Mandiri, Lapas Kelas IIA Warungkiara, Sukabumi, Jawa Barat, Rabu (10/6/2026).
Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto mengatakan, transformasi pemasyarakatan telah dirancang sejak awal pembentukan kementerian.
Fokusnya tidak hanya pada pembinaan warga binaan, tetapi juga peningkatan kesejahteraan pegawai dan kontribusi sosial kepada masyarakat.
“Sejak awal saya hanya menanyakan tiga hal, bagaimana mensejahterakan pegawai, memberikan pelatihan kepada warga binaan agar produktif, dan bagaimana hasil dari kegiatan itu bisa kembali kepada masyarakat dalam bentuk bakti sosial dan kegiatan sosial lainnya,” ujar Agus.
Menurutnya, paradigma lama yang terlalu sentralistis kini telah diubah. Seluruh jajaran pemasyarakatan didorong menggandeng pengusaha lokal agar roda ekonomi daerah ikut bergerak dan manfaat ekonomi dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat sekitar.
Agus juga mengingatkan seluruh Kepala Lapas dan Kepala Rutan agar memanfaatkan berbagai peluang usaha legal yang telah dibangun pemerintah, mulai dari pengelolaan koperasi, kantin, hingga program ketahanan pangan.
“Jangan ada lagi praktik-praktik yang menyimpang. Semua peluang sudah kita buka. Tinggal bagaimana mengembangkan usaha yang sah dan produktif untuk meningkatkan kesejahteraan pegawai serta mendukung pembinaan warga binaan,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Agus mengungkapkan bahwa program bakti sosial bedah rumah yang dijalankan jajaran pemasyarakatan telah berhasil membangun 24 unit rumah di berbagai daerah di Indonesia.
Di antaranya enam unit di Tuban, lima unit di Warungkiara, tiga unit di Situbondo, tiga unit di Penajam, satu unit di Trenggalek, satu unit di Batusangkar, satu unit di Amuntai, tiga unit di Palembang, dan tiga unit di Muara Sabak, Jambi.
“Semua kegiatan ini merupakan hasil kerja sama jajaran pemasyarakatan dengan mitra dan pengembang di daerah. Ini bukti bahwa pemasyarakatan mampu memberikan dampak nyata kepada masyarakat,” katanya.
Selain itu, Kemenimipas juga tengah menjalankan program penyediaan rumah murah bagi pegawai bekerja sama dengan Bank Rakyat Indonesia, dengan skema kredit berbunga 7,5 persen selama 25 tahun.
Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Jawa Barat Kusnali mengatakan, kegiatan di Warungkiara bertujuan memperkuat peran sosial pemasyarakatan melalui program bedah rumah, renovasi tempat ibadah, pembinaan kemandirian warga binaan, serta penguatan ketahanan pangan.
“Pemasyarakatan tidak hanya menjalankan fungsi pembinaan terhadap warga binaan, tetapi juga memperkuat peran sosial kemasyarakatan melalui sinergi dengan pemerintah daerah, mitra kerja dan masyarakat,” ujarnya.
Ia menjelaskan, seluruh anggaran program bedah rumah bersumber dari hasil Panen Raya Ketahanan Pangan Warga Binaan se-Indonesia yang dilaksanakan pada Januari 2026 di Lapas Kelas I Cirebon.
Dalam program tersebut, lima rumah warga kurang mampu dan dua unit tempat ibadah di sekitar Lapas Warungkiara mendapatkan bantuan renovasi.
Kusnali juga memaparkan capaian program ketahanan pangan pemasyarakatan Jawa Barat. Saat ini, produksi telur dari peternakan warga binaan telah mencapai hampir 14 ton per bulan, meningkat signifikan dibandingkan capaian sebelumnya yang berada di angka 9 ton per bulan.
Meski demikian, kebutuhan telur untuk 26.693 warga binaan di Jawa Barat mencapai sekitar 28 ton per bulan. Karena itu, pihaknya berencana membangun kandang baru yang diproyeksikan mampu menghasilkan hingga 63 ton telur per bulan dari sekitar 43 ribu ayam petelur.
“Jika program ini terealisasi, bukan hanya kebutuhan Jawa Barat yang terpenuhi, tetapi juga bisa menyuplai wilayah lain,” jelasnya.
Tak hanya sektor peternakan, Sarana Asimilasi dan Edukasi Berkah Mandiri di Lapas Warungkiara yang berdiri di atas lahan sekitar 3,5 hektare kini menjadi pusat pembinaan produktif warga binaan melalui sektor pertanian, hortikultura, peternakan ayam, domba, sapi, budidaya ikan air tawar, hingga pengelolaan lingkungan terpadu.
Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI Hj. Dewi Asmara memberikan apresiasi tinggi terhadap terobosan yang dilakukan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan.
Menurutnya, program tersebut membuktikan bahwa pemasyarakatan tidak hanya berbicara soal pembinaan di balik tembok penjara, tetapi telah hadir secara nyata memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Biasanya program CSR dilakukan oleh perusahaan atau BUMN. Tapi hari ini kita melihat hasil kerja warga binaan melalui program ketahanan pangan justru mampu membantu masyarakat secara langsung. Ini luar biasa,” kata Dewi.
Ia juga meminta media untuk turut mengangkat berbagai sisi positif pemasyarakatan yang selama ini kerap tertutupi oleh pemberitaan negatif.
“Kita sering hanya mendengar sisi negatif lapas. Padahal banyak inovasi dan program yang dilakukan untuk mempersiapkan warga binaan kembali ke masyarakat. Program ketahanan pangan, peternakan, pertanian hingga bedah rumah adalah bukti nyata bahwa pemasyarakatan sedang bergerak menuju sistem yang modern, produktif dan bermanfaat,” ujarnya. (Thalib)





