KORANJURI.COM – Musibah bisa datang kapan saja tanpa terduga. Hal itu dialami Roni (40), buruh asal Desa Ketanda, Kecamatan Sumpiuh, Kabupaten Banyumas. Saat melihat orang memancing, matanya terkena pemberat kail hingga harus menjalani operasi.
Beruntung, Roni sudah terdaftar sebagai peserta Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) segmen Penerima Bantuan Iuran (PBI). Kepesertaan itu membuatnya tenang saat harus bolak-balik rumah sakit untuk operasi pertama dan operasi lanjutan.
“Saya sudah beberapa kali berobat di sini. Pelayanannya baik, dokternya ramah, perawat dan petugas lainnya juga sigap membantu,” ungkap Roni, Senin (07/09/2026).
Di tengah proses pemulihan, perhatian Roni justru tertuju pada buah hatinya. Saat didampingi petugas BPJS Satu Kebumen, ia mengecek status kepesertaan anak pertamanya yang baru lahir.
Roni mengaku sempat khawatir karena status JKN anaknya tidak aktif.
“Yang penting bagi saya, anak-anak juga punya jaminan kesehatan. Kalau suatu saat membutuhkan pelayanan, sudah ada jaminan kesehatan tidak bingung lagi,” kata Roni.
Ia juga mengaku terbantu dengan layanan digital BPJS Kesehatan. Fitur antrean online di aplikasi Mobile JKN membuatnya tidak perlu datang terlalu pagi ke poli RS.
“Kalau mau berobat ke poli, saya sering pakai antrean online di Mobile JKN. Jadi lebih praktis, tidak perlu datang terlalu pagi hanya untuk mengambil antrean,” ujarnya.
Pengalaman ini membuat Roni semakin sadar pentingnya memastikan seluruh anggota keluarga aktif sebagai peserta JKN. Baginya, jaminan kesehatan adalah bentuk ketenangan saat risiko datang tiba-tiba.
“Karena ketika risiko kesehatan datang tanpa diduga, kepastian jaminan kesehatan dapat membuat keluarga lebih tenang dalam menghadapinya,” pungkasnya. (Jon)





