KORANJURI.COM – Perumda Air Minum Tirta Perwitasari (PDAM Purworejo) meluncurkan program promo spesial bertajuk “Paket Merdeka” sepanjang bulan Agustus 2026.
Langkah ini diambil dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 sekaligus sebagai upaya mengantisipasi krisis air bersih menghadapi musim kemarau.
Direktur Utama PDAM Purworejo, Hermawan Wahyu Utomo, menjelaskan bahwa program ini sengaja dihadirkan untuk memberikan kemudahan akses air bersih bagi masyarakat yang belum menjadi pelanggan.
Dalam promo Paket Merdeka ini, pelanggan baru akan mendapatkan potongan biaya sebesar Rp300 ribu dari tarif pemasangan normal. Rata-rata biaya pemasangan reguler berada di kisaran Rp1,3 juta, di mana nominal akhir nantinya akan disesuaikan kembali melalui perhitungan Rencana Anggaran Biaya (RAB) berdasarkan panjang pipa existing.
Menariknya, keuntungan bagi masyarakat tidak berhenti di potongan harga saja.
“Selain potongan biaya pemasangan, para pendaftar baru selama bulan Agustus juga akan mendapatkan kupon undian berhadiah umroh,” ujar Hermawan, Selasa (14/07/2026).
Pihak PDAM menegaskan bahwa jangkauan Promo Paket Merdeka ini berlaku di hampir seluruh wilayah cabang pelayanan PDAM Purworejo. Namun, ada satu wilayah yang dikecualikan.
“Promo ini berlaku di semua cabang, kecuali untuk wilayah Kecamatan Loano. Hal ini terpaksa dilakukan karena kapasitas debit air di wilayah Loano saat ini masih sangat terbatas,” jelasnya.
Program ini diharapkan mampu mendongkrak pencapaian target tahunan PDAM Purworejo, yaitu sebanyak 1.300 sambungan baru dalam setahun.
Mengingat target tersebut belum sepenuhnya terpenuhi, momentum HUT RI diharapkan menjadi stimulus positif.
Lebih dari sekadar mengejar target bisnis, Hermawan juga memanfaatkan momentum ini untuk menyampaikan pesan penting terkait kelestarian lingkungan.
Pihaknya menghimbau masyarakat, terutama yang berdomisili di wilayah perkotaan, untuk mulai beralih dari penggunaan air tanah (sumur dangkal maupun sumur dalam) ke air permukaan yang dikelola PDAM.
Langkah peralihan ini sejalan dengan program pemerintah pusat untuk menekan eksploitasi air tanah yang berlebihan. Karena pengambilan air tanah secara masif dikhawatirkan dapat memicu penurunan permukaan tanah (land subsidence).
“Selain menjaga stabilitas alam, mengonsumsi air PDAM juga dinilai jauh lebih higienis dan terjamin kualitasnya demi kesehatan keluarga,” pungkas Hernawan. (Jon)





