KORANJURI.COM – Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Purworejo tancap gas di awal tahun 2026 dengan memperkuat program ketahanan pangan nasional.
Selain menjaga status sebagai lumbung pangan Jawa Tengah, DKPP kini tengah melirik potensi besar Tepung Mocaf (Modified Cassava Flour) dan Cabai Jawa sebagai komoditas unggulan baru untuk meningkatkan kesejahteraan petani lokal.
Kepala DKPP Kabupaten Purworejo, Bagas Adi Karyanto, S.Sos, MM, menyatakan bahwa langkah ini sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto dalam mencapai swasembada pangan.
Menurut Bagas, wilayah seperti Bruno, Pituruh, dan Kemiri memiliki potensi tanaman ketela pohon (singkong) yang melimpah. Selama ini, singkong hanya dijual dalam bentuk mentah dengan harga rendah. Melalui inovasi Mocaf, ketela dimodifikasi menjadi tepung berkualitas tinggi yang rendah glukosa dan bebas gluten.
“Daripada dijual hanya berbentuk ketela, kita dorong kelompok tani untuk mengolahnya menjadi tepung Mocaf. Secara ekonomi sangat menguntungkan. Harganya di pasaran bisa mencapai Rp25 ribu hingga Rp30 ribu per kilogram, bahkan kualitas premium bisa menyentuh angka lebih tinggi,” ujar Bagas dalam wawancara, Senin (02/02/2026).
Bagas mengungkapkan adanya permintaan besar dari UMKM nasional hingga pasar internasional seperti Tiongkok (RRC) yang pada tahun sebelumnya sempat menyerap ekspor hingga 20 ton.
Pembuatan tepung Mocaf tergolong sederhana namun membutuhkan ketelatenan. Prosesnya meliputi fermentasi, yakni ketela yang telah dikupas dan dipotong direndam selama 2-3 hari dengan pergantian air setiap 12 jam untuk menghilangkan aroma singkong.
Setelah kering, ketela dihaluskan menggunakan mesin penghancur. Dari 1 kuintal bahan baku singkong, dapat dihasilkan sekitar 25-30 kg tepung Mocaf putih bersih.
“Tahun 2026 ini kami fokus pada sosialisasi masif. Untuk tahun 2027, kami akan mulai mengupayakan bantuan fisik seperti mesin penghancur tepung yang harganya relatif terjangkau, sekitar Rp2,3 juta, agar volume produksi petani bisa meningkat,” tambah Bagas.
Selain Mocaf, DKPP juga mempromosikan budidaya Cabai Jawa. Tanaman merambat ini dinilai sangat praktis karena tidak membutuhkan lahan khusus dan memiliki nilai ekonomi tinggi.
Harga cabai Jawa basah mencapai Rp12 ribu hingga Rp15 ribu per kg. Harga cabai Jawa kering bisa mencapai Rp75 ribu hingga Rp90 ribu per kg.
“Setelah usia 2,5 tahun, Cabai Jawa bisa dipanen dua kali dalam sebulan. Ini adalah peluang besar bagi petani untuk memanfaatkan lahan pekarangan atau tumpang sari,” jelasnya.
Untuk mendukung produktivitas, Bagas menyebutkan bahwa pemerintah pusat masih terus mengucurkan bantuan alat pertanian, termasuk traktor roda empat pada tahun ini. Ia berharap adanya kolaborasi antara pemerintah, petani, dan lembaga seperti PDAU untuk memasarkan produk-produk inovatif ini.
“Tujuan akhirnya adalah memperkaya khazanah pertanian Purworejo. Kita tidak hanya punya beras, durian, atau manggis, tapi ke depan kita punya Mocaf dan Cabai Jawa sebagai ikon baru yang menyejahterakan petani,” pungkasnya. (Jon)





