Mengungkap Legenda dan Keindahan Alam Jatiluwih Melalui Festival

oleh
Tradisi tanam padi di Desa Jatiluwih, Tabanan - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Desa Wisata Jatiluwih bukan saja punya panorama indah berupa sawah berundak dengan kearifan lokal subak yang ditetapkan UNESCO sebagai warisan budaya tak benda.

Namun, tradisi di desa yang berlokasi di Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan itu, juga hidup di tengah masyarakat. Kebudayaan yang tumbuh juga lestari yang mengungkap sejumlah kisah yang ada di desa itu.

Kepala Pengelola Desa Wisata Jatiluwih I Ketut Purna atau akrab disapa John Ketut Purna mengatakan, pihaknya memiliki memiliki tari kebesaran yang akan diperkenalkan saat event Jatiluwih Festival VI tahun 2025.

“Tarian ini diciptakan oleh mahasiswa ISI Bali, kisahnya masih berkisar pada legenda yang ada di Desa Jatiluwih,” kata John Purna di Denpasar, Selasa, 8 Juli 2025.

Menurutnya, Jatiluwih sendiri berasal dari kata Jaton yang berarti kesaktian dan luwih atau sesuatu yang punya kelebihan. Sehingga, Jatiluwih bermakna desa yang memiliki kelebihan.

Di Desa Jatiluwih juga berkembang cerita tentang burung Jatayu. John menyebutkan, istilah Jatayu juga berasal dari kata Jaton dan Ayu.

Kisah burung Jatayu yang legendaris dalam epos Ramayana itu kemudian berkembang menjadi tarian paksi atau tarian burung di Desa Jatiluwih.

“Kisah-kisah seperti itu nanti akan diangkat dalam Jatiluwih Festival VI yang rutin yang jadi annual event setiap tahun,” ujarnya.

Selain sebagai atraksi wisata, Festival Jatiluwih juga mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat desa sekitar.

Dia mengatakan, kunjungan wisatawan ke Desa Jatiluwih mengalami tren kenaikan. Di bulan Juni 2025, jumlah kunjungan naik 20 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

“Per hari kurang lebih mencapai 1.200 kunjungan, terutama wisatawan asal Eropa, tapi dalam momen tertentu kunjungan bisa tembus 2.000 wisatawan per hari,” jelasnya. (Way)