Oli Quintech Esemkapurwa Purworejo Mendapat Apresiasi dari PP Muhammadiyah

oleh
Prof. Dr. Abdul Mu'thi, M. Ed., Sekum PP Muhammadiyah dan H. Didik Suhardi, PH. D., Ketua Majelis Dikdasmen PNF PP Muhammadiyah bersama Kepala Esemkapurwa Purworejo dengan memegang Oli Quintech - foto: Koranjuri.com

Maka, ujar Muhammad Yusro, perlu gerakan ‘Multi Stakeholder’ dalam menyelesaikan masalah yang masih ada. Direktorat SMK mendukung pembelajaran berbasis industri (termasuk Teaching Factory), Link & Match dan transformasi kelembagaan serta mendukung kuantitas dan kapasitas pendidik Vokasi dengan melanjutkan pendekatan berpusat pada murid.

Tatang Muttaqin, selaku Plt Dirjend Vokasi Kemdikbud Ristek RI mengungkapkan, bahwa Pendidikan Vokasi masa depan itu Borderless, yakni tidak mengenal batas atau lokasi domisili.

Experiental Learning – Work Based Learning, yaitu belajar dengan mengerjakan langsung terkait dengan okupasi kerja, materi pembelajaran terapan atau kongkrit.

On Deman Program, bahwa Program Pendidikan personalized. Kurikulum dan CP disesuaikan permintaan siswa. Substansi lebih mutakhir dan proses belajar yang menyenangkan.

“Pembiayaan Sepadan. Jadi besar biaya sepadan dengan kompetensi yang diraih. Proses belajar sejalan dengan gaya hidup, paruh waktu dengan jadwal lebih lentur dan jarak jauh,” terang Tatang.

Gogot Suharwoto, anggota Majelis Dikdasmen PNF PP Muhammadiyah, Atase Pendidikan dan Kebudayaan Korea mengatakan,
SMK Muhammadiyah mempunyai kesempatan kerjasama dengan Korea Indonesia Enhanced Networks( KIEN), Lembaga yang menyalurkan tenaga kerja dan kuliah ke korea Selatan.

Korea, kata Gogot, termasuk negara yang tercepat pertumbuhan teknologi dan perkembangan ekonomi. Korea adalah negara yang paling banyak menggunakan robot karena tenaga kerjanya sangat minim.

“Hal ini menjadi peluang bagi lulusan SMK untuk bekerja di Korea dengan gaji Rp24,5 juta/ bulan. Tenaga kerja Indonesia yang bekerja di Korea baru 50.841 orang. Nomer 4 di Asia Tenggara setelah Vietnam, Thailand dan Philippines,” jelas Anastasia

Kepala BPMP Jakarta juga menyampaikan dalam rakor tersebut, bahwa 30% waktu murid di sekolah. Sekolah menjadi tempat yang dicita-citakan. Sekolah harus bisa menumbuhkan kompetensi dan karakter siswa. Pimpinan sekolah harus bisa menciptakan pendidik yang reflektif, iklim sekolah yang aman, inklusif dan merayakan keberagaman dan pembelajaran yang berpusat pada murid. (Jon)