KORANJURI.COM – Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Purworejo terus menguatkan perannya dalam mendampingi peternak melalui inovasi daerah ‘SUBALI SAPIRA’ atau Suburkan Kembali Sapi Rakyat.
Inovasi ini menjadi strategi untuk menekan angka gangguan reproduksi dan meningkatkan produktivitas sapi potong di wilayah Purworejo.
Sebagai wujud implementasi nyata, DKPP Purworejo menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Eksternal bagi kelompok peternak penerima bantuan di Desa Kedungpomahan Kulon, Kecamatan Kemiri. Acara yang dihelat pada Rabu, 23 Juli 2026 ini diikuti oleh 8 kelompok peternak dengan total bantuan sekitar 40 ekor sapi.
Bimtek dibuka oleh Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Purworejo Bagas Adi Karyanto, S.Sos., M.M..
“Program SUBALI SAPIRA merupakan upaya konkret untuk mendukung pengembangan peternakan melalui peningkatan kapasitas peternak dan pendampingan teknis berkelanjutan,” jelas Bagas Adi Karyanto.
Camat Kemiri Bambang Supriatno, S.Sos., yang hadir dalam kesempatan tersebut mengingatkan bahwa tidak semua wilayah mendapatkan bantuan ternak sapi.
“Ini adalah amanah. Jaga baik-baik ternaknya, kembangkan populasinya, agar pendapatan masyarakat Desa Kedungpomahan Kulon semakin meningkat,” pesan Camat Kemiri.
Atas terselenggaranya Bimtek, Kepala Desa Kedungpomahan Kulon menyampaikan apresiasinya. Beliau berharap kegiatan ini dapat memberikan manfaat besar bagi seluruh peserta.
Materi utama Bimtek disampaikan oleh drh. Zain Amri dengan topik Reproduksi Sapi Betina. Dalam pemaparannya dijelaskan pentingnya manajemen reproduksi yang baik untuk meningkatkan produktivitas, mulai dari pengamatan birahi yang benar, penanganan induk menjelang hingga setelah melahirkan, hingga pencegahan penyakit reproduksi.
Sesi diskusi berlangsung sangat interaktif. Beberapa isu penting yang dibahas antara lain, persiapan menjelang kelahiran: bahwa kandang harus nyaman dengan alas jerami kering dan pembatas agar pedet tidak jatuh ke kotoran. Tanda lendir bening kental dan ketuban pecah harus segera ditindaklanjuti. Proses melahirkan idealnya selesai dalam 1 jam setelah ketuban pecah.
Penanganan kembung: peternak dibekali teknik penanganan awal dan penggunaan obat kembung yang telah didistribusikan Dinas sesuai petunjuk.
Pencegahan prolaps uteri / broyong: dijelaskan penyebab, jenis prolaps, dan cara pencegahan agar tidak terjadi pada sapi pasca beranak.
Sebagai bentuk dukungan, pada kegiatan ini juga dibagikan buku saku pemeliharaan sapi betina yang berisi materi pakan, teknik pemberian pakan, deteksi dan siklus birahi, serta format recording untuk pencatatan pengobatan dan IB.
Tidak hanya itu, peternak juga menerima paket obat-obatan oral meliputi obat cacing, vitamin B kompleks, obat diare, dan obat kembung. Selain itu dibagikan juga desinfektan lengkap dengan petunjuk penggunaannya.
Selain Bimtek, SUBALI SAPIRA juga mengedepankan aksi lapangan cepat. Tim teknis DKPP melakukan pemeriksaan kebuntingan, pemeriksaan organ reproduksi, dan penanganan/treatment kasus gangguan reproduksi kurang dari 24 jam setelah ada laporan dari peternak.
Langkah ini bertujuan memastikan pelayanan Inseminasi Buatan berjalan tepat waktu dan tepat mutu, sehingga sapi betina produktif dapat segera bunting kembali.
Melalui kombinasi Bimtek dan aksi lapangan ini, DKPP Purworejo menargetkan peningkatan pengetahuan peternak, penurunan kasus gangguan reproduksi, dan peningkatan kesejahteraan peternak di Desa Kedungpomahan Kulon dan wilayah lainnya.
Inovasi SUBALI SAPIRA sejalan dengan UU No. 18 Tahun 2009 jo UU No. 41 Tahun 2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan, Permentan No. 17 Tahun 2020, serta mendukung capaian kinerja sesuai Keputusan Bupati Purworejo No. 964 Tahun 2024.
“Dengan ilmu, data, dan pendampingan, kita wujudkan sapi rakyat Purworejo yang benar-benar subur kembali,” tutup tim pelaksana. (Jon)





