Puluhan Tahun Mengabdi, Kepala SMPN 18 Purworejo Achmad Yulianto Resmi Purna Tugas

oleh
Achmad Yulianto, S.Pd., foto bersama jajaran guru SMPN 18 Purworejo - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Perjalanan panjang dunia pendidikan di Kabupaten Purworejo mencatat momen penuh haru. Achmad Yulianto, S.Pd., secara resmi mengakhiri masa pengabdiannya sebagai Kepala SMPN 18 Purworejo pada Jum’at (31/07/2026).

Di hari terakhirnya bertugas, ia meninggalkan warisan berharga berupa dedikasi total selama puluhan tahun bagi kemajuan pendidikan daerah.

Pada wawancara khusus, Achmad Yulianto merinci perjalanan kariernya yang inspiratif. Ia memulai langkah sebagai guru swasta murni selama 16 tahun sejak 1987, menimba ilmu dari pengalaman berharga di bawah didikan tujuh kepala sekolah yang berbeda.

Pada tahun 2008, ia beralih status menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan ditempatkan di SMPN 42 Purworejo, Bruno, dengan tantangan medan yang ekstrem.

Berkat ketekunan dan dukungan rekan sejawat, ia kemudian mengikuti seleksi dan dikukuhkan menjadi Kepala Sekolah pada November 2018, hingga akhirnya memimpin SMPN 13 dan melabuhkan pengabdian terakhirnya di SMPN 18 Purworejo.
Total masa kerja PNS yang ia jalani mencapai 23 tahun 2 bulan.

Menanggapi momen purna tugasnya, Achmad Yulianto mengaku merasakan ketenangan yang mendalam.

“Saya merasa senang dan bersyukur atas pencapaian ini, purna tugas sebagai kepala sekolah. Ucapan terima kasih saya sampaikan kepada semua pihak yang telah mempercayai, membersamai, mendukung, dan membantu saya,” kata Achmad Yulianto, Jum’at (31/07/2026).

Perjalanan panjang dari seorang guru biasa hingga dipercaya memimpin beberapa sekolah menengah meninggalkan kesan mendalam.

Ketika ditanya mengenai momen atau pengalaman yang paling mengubah cara pandang tentang dunia pendidikan, ia menegaskan bahwa guru sangat menentukan keberhasilan belajar murid, belajar secara holistik dan komprehensif.

Jika diberi kesempatan memutar waktu ke hari pertama mengajar puluhan tahun lalu, ia menyampaikan satu nasihat penting bagi ‘Achmad Yulianto muda’.

“Kamu sebagai guru harus totalitas dalam mendidik. Kamu punya seribu cara untuk mengubah pola pikir pola hidup murid. Di tanganmu murid akan berubah dari tidak bisa menjadi bisa, dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak beretika menjadi beretika, dan seterusnya.”

Sepanjang kariernya, ia menyaksikan pergeseran karakter siswa dari masa ke masa. Ia menyoroti tantangan generasi digital saat ini yang dinilainya lebih rentan secara mental, sehingga membutuhkan pendekatan penuh kesabaran dari para pendidik.

Kenangan manis bersama para murid juga menghiasi perjalanan panjangnya. Ketika ditanya mengenai sosok murid yang paling berkesan, ia mengenang beberapa nama dengan latar belakang yang beragam.

“Di Pituruh ada seorang murid yang sangat antusias (tolab) saat ia mengikuti pelajaran bahasa dan sastra. Ia kini sukses menjadi juragan toko material di Pituruh. Di Winong Kemiri ada Muh Hasyim, seorang murid dari keluarga tak mampu yang kini sukses berkarier menjadi supervisor di Malaysia. Dan di Bruno ada Asep, murid pintar yang kini dikenal luas sebagai seorang seniman lukis di Purworejo,” cerita Achmad Yulianto.

Juga di SMPN 18 Purworejo, Achmad Yulianto menambahkan, ada figur murid berprestasi bola voli tingkat nasional dan Asia. Ada pula figur murid putri yang menakjubkan, membawakan pembawa acara dalam upacara dengan tenang, vokal, dan intonasi sempurna dan suaranya seperti suara orang dewasa/ melebihi suara guru.

Menutup masa baktinya, ia berpesan kepada para guru dan tenaga kependidikan di SMPN 18 Purworejo untuk senantiasa mendidik dengan penuh keikhlasan karena anda semua orang yang mulia mengemban tugas yang mulia.

Ia juga berpesan kepada para siswa agar selalu menghormati orang tua dan guru.

Memasuki masa pensiun, ia berencana mendedikasikan waktu untuk hidup sederhana, memperbanyak ibadah, serta mengabdi kepada agama bersama keluarga tercinta.(Jon)