KORANJURI.COM – Guna melahirkan kader pembina pramuka yang legal dan kompeten, Kwartir Cabang (Kwarcab) Purworejo bekerja sama dengan Universitas Muhammadiyah Purworejo (UMPWR) menggelar Kursus Pembina Pramuka Mahir Tingkat Dasar (KMD) Golongan Penggalang Angkatan ke-2 tahun 2026.
Kegiatan yang berlangsung selama enam hari, mulai Kamis (14/05/2026) hingga Selasa (19/05/2026) ini, diikuti 211 peserta yang terbagi menjadi tiga kelas, dengan kegiatan dipusatkan di lingkungan kampus UMPWR dengan agenda luar ruang (kemah) di Lapangan Garnisun Purworejo.
Wakil Ketua Bidang Binawasa Kwarcab Purworejo, Dra. Hj. Titik Mintarsih, M.Pd, saat membuka acara di Auditorium Kasman Singodimedjo UMPWR, Kamis (14/05/2026) menegaskan bahwa KMD adalah gerbang utama bagi orang dewasa untuk sah menjadi pembina. Ia menyoroti pentingnya sertifikasi agar pola pembinaan di gugus depan (gudep) berjalan sesuai rel yang benar.
“Banyak siswa merasa jenuh karena pembinanya belum memahami metode kepramukaan yang tepat. Pembina yang belum KMD itu bagaikan seseorang yang ‘ilegal’ karena tidak memiliki sertifikat resmi,” ujar Titik Mintarsih.
Tujuan akhir dari kursus ini adalah mencetak generasi unggul yang sehat, produktif, peduli, dan bahagia. Sebanyak 211 peserta, yang didominasi oleh mahasiswa Program Studi PGSD UMPWR serta 1 peserta umum, akan menempuh 72 SKS selama pelatihan.
Ketua Panitia KMD, Nida Alfia, menjelaskan bahwa antusiasme tinggi dari mahasiswa PGSD dikarenakan KMD telah menjadi bagian dari kurikulum semester 7 pada mata kuliah Kepanduan Dasar.
“Ini bukan sekadar mencari nilai, tapi investasi kualitas diri. Sebagai calon guru SD, kami wajib memiliki Surat Hak Bina (SHB) agar nantinya layak dan legal membina pramuka di sekolah tempat kami bertugas,” jelas Nida.
Senada dengan hal tersebut, Pelatih dari Pusdiklatnas, Mulyono atau yang akrab disapa Kak Mung, menjelaskan bahwa lulus KMD barulah langkah awal.
Terdapat empat tahapan utama yang harus diselesaikan oleh peserta dalam kursus ini, kata Kka Mung, yakni Orientasi (meliputi registrasi dan pelaksanaan pre-test), Penguatan (pemberian materi fundamental, seperti materi Fundamental Gerakan Pramuka), Penerapan (praktik langsung, seperti upacara, teknik membina, keterampilan pramuka (scouting skills), serta cara memahami jiwa peserta didik dan Pengukuhan (tahap akhir atau kelulusan yang nantinya akan dilaporkan kembali ke Kwarcab).
Menurut Kak Mung, peserta diibaratkan seperti lulusan sarjana pendidikan yang masih harus menempuh “PPG” dalam pramuka.
“Setelah kursus enam hari ini, ada masa pengembangan Narakarya Dasar selama enam bulan di gugus depan. Jika sudah selesai, barulah mereka mendapatkan lisensi resmi sebagai pembina,” ungkap mantan Kepala Pusdiklatda Jawa Tengah tersebut.
Kepada para peserta diharapkan menjadi garda terdepan dalam mengawal generasi muda Indonesia agar memiliki karakter, rasa kebangsaan, dan kecakapan hidup.
“Membimbing generasi muda sehingga Indonesia menjadi bangsa yang hebat melalui warga yang berkarakter,” harap pelatih asal Rembang ini.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Purworejo, Yudhie Agung Prihatno, S.S.T.P., M.M., yang hadir dalam pembukaan bersama jajaran pengurus Kwarcab dan sejumlah tamu undangan lainnya memberikan apresiasi tinggi terhadap kolaborasi ini. Menurutnya, kompetensi pembina berbanding lurus dengan karakter siswa di sekolah.
“Pramuka di Purworejo masih sangat dinamis dan bersemangat. Kami terus mendorong agar kegiatan ini hidup di sekolah-sekolah karena pramuka adalah instrumen penting dalam membentuk karakter anak bangsa,” tutur Yudhie.
Kegiatan KMD ini diharapkan mampu menghasilkan pembina yang tidak hanya handal dan adaptif terhadap teknologi, tetapi juga mampu mengimplementasikan Syarat Kecakapan Umum (SKU) dan Syarat Kecakapan Khusus (SKK) secara konsisten di setiap sekolah. (Jon)





