Dari Ruang Kelas Mewujudkan Indonesia Yang Berdaulat, Adil dan Makmur

oleh
Ilustrasi/Ist.

Oleh: Himawan Susrijadi, S.Pd., M.Pd.

Salam hormat untuk Bapak Ibu Guru hebat!
Coba Ibu dan Bapak bayangkan, pukul 06.45 di sebuah SMP di Purworejo, 32 anak kelas 7 berdiri di gerbang. Bukan untuk disuruh lari. Bukan untuk dihukum. Akan tetapi, untuk saling sapa: “Wilujeng enjing, Bu Guru”, “Wilujeng enjing, Pak Guru!”

Lalu pukul 07.10 mereka masuk kelas. Meja tidak berjejer rapi menghadap papan tulis. Meja disusun melingkar. Di tengah ada pot jahe dari botol bekas. Ada kabel, ada buzzer, ada gambar motif batik Bagelen.

Guru tidak langsung ceramah. Guru bertanya: “Anak-anak, kenapa TOGA kita sering mati saat liburan? Bagaimana caranya agar dia bisa nyiram sendiri, murah, dan tetap ada nuansa Jawanya?” 90 menit kemudian, anak-anak itu pulang membawa 3 hal: pemahaman sains tentang kelembaban tanah, keterampilan merakit sensor sederhana, dan rasa bangga karena karyanya terpakai di sekolah.

Itu bukan sekolah mahal di Jakarta. Itu sekolah negeri biasa. Dan itu namanya Pembelajaran Mendalam. Mungkin Bapak/Ibu bertanya: “Hubungannya apa sama Indonesia berdaulat, adil, makmur?” Hubungannya besar sekali. Karena Indonesia yang kita cita-citakan itu tidak akan jatuh dari langit. Ia lahir, setiap hari, dari ruang kelas seperti ini.

A. Mengapa Kita Membutuhkan “Pembelajaran Mendalam”?

Selama ini kita sering terjebak pada 3 hal, yaitu sebagai berikut.

Pertama, Kejar Target Kurikulum. Guru dikejar materi. Satu semester harus tuntas 6 bab. Akibatnya mengajar jadi seperti lomba lari. Yang penting materi “sudah disampaikan”. Paham atau tidak, belakangan.

Kedua, Didik Anak Jadi Mesin Jawab Soal. Les, try out, drill soal HOTS. Anak pintar mengerjakan soal, tetapi ditanya “Ilmu ini buat apa di hidupmu?” dia diam.

Ketiga, Lupa Tujuan Besar Pendidikan. Kita mendidik tidak hanya untuk meluluskan. Kita mendidik untuk membangun bangsa.

Pembukaan UUD 1945 sudah menyampaikan bahwa tujuannya “mewujudkan masyarakat Indonesia yang berdaulat, adil dan makmur”.

Lalu pertanyaannya: anak yang hanya bisa menghafal rumus, apa bisa membuat Indonesia berdaulat? Anak yang tidak pernah dilatih kerja sama, apa bisa membuat Indonesia adil? Anak yang tidak pernah diminta berpikir solusi masalah desanya, apa bisa membuat Indonesia makmur?

Jawabannya, tidak. Karena itu lahirlah Pembelajaran Mendalam. Bukan istilah baru untuk membuat guru pusing. Akan tetapi, cara pandang baru: “Guru, berhentilah mengajar semua hal. Mulailah mengajarkan hal penting sedalam-dalamnya.”

Ada tiga kata kunci Pembelajaran Mendalam, yaitu Berkesadaran, Bermakna, Menggembirakan.

1. Berkesadaran: Anak sadar dia sedang belajar, sadar tujuannya, sadar prosesnya. Bukan “asal ngerjain LKS”.

2. Bermakna: Apa yang dipelajari nyambung sama hidupnya. Nyambung dengan masalah desanya, budayanya, masa depannya.

3. Menggembirakan: Kelas menjadi tempat yang ditunggu, bukan ditakuti. Ada diskusi, ada karya, ada tawa.

Jika tiga hal ini berjalan, maka dari satu ruang kelas, kita sedang mencetak warga negara yg dibutuhkan Indonesia.

B. Dari Kelas Mewujudkan Indonesia Berdaulat

Apa itu berdaulat? Berdaulat artinya mampu berdiri di atas kaki sendiri. Tidak tergantung. Memiliki identitas. Selama ini kita “berdaulat” di bidang politik. Akan tetapi, di bidang ilmu, teknologi, budaya, kita masih sering menjadi konsumen. Memakai HP buatan luar, aplikasi buatan luar, bahkan ide tentang “pendidikan yang bagus” pun kita impor.

Pembelajaran Mendalam melatih kedaulatan lewat 2 cara :
1. Melahirkan “Problem Solver” Lokal

Contoh praktik baik dari SMPN 2 Purworejo: Proyek “TOGA Otomatis Berbasis Sensor Murah”.
Masalahnya lokal: tanaman TOGA sekolah mati saat libur.
Solusinya lokal: sensor dari 2 paku + buzzer + botol bekas. Modal 15 ribu.
Ilmunya lokal: anak belajar IPA tentang kelembaban, belajar Matematika menghitung volume air, belajar Prakarya bikin pot.
Apa hasilnya? Anak-anak tidak lagi berpikir: “Saya harus menunggu bantuan pemerintah untuk menyelesaikan masalah”. Akan tetapi, mereka mulai berpikir: “Dengan ilmu yang saya punya, saya bisa menyelesaikan masalah di kampung saya”.
Itulah bibit kedaulatan. Sepuluh tahun lagi anak ini jadi kepala desa. Ketika ada masalah air, dia tidak akan bilang “Tidak ada anggaran”. Dia akan bilang “Ayo kita rakit bersama”. Kedaulatan dimulai saat anak percaya bahwa otaknya, tangannya, dan idenya cukup untuk membangun tempatnya tinggal.

2. Menguatkan Identitas dan Akar Budaya

Berdaulat tanpa identitas sama saja dengan kosong. Kita pun akan menjadi bangsa peniru. Di praktik baik lain, ada guru Bahasa Jawa yang tidak mengajar “Aksara Jawa” lewat hafalan.

Dia mengajak anak bikin label nama tanaman TOGA pakai Aksara Jawa. Ada guru Seni yang mengajak anak menghias pot TOGA dengan motif Batik Bagelen.
Hasilnya? Anak tidak malu dengan bahasanya sendiri. Dia tidak menganggap “bahasa Jawa itu kampungan”.

Dia melihat: “Oh, budaya saya bisa dipakai untuk membuat produk teknologi”. Inilah kedaulatan budaya. Saat anak bangga jadi orang Jawa, orang Batak, orang Papua, dan tetap bangga jadi orang Indonesia. Indonesia berdaulat dimulai saat anak-anak kita tidak minder di ruang kelasnya sendiri.

C. Dari Kelas Mewujudkan Indonesia yang Adil

Adil itu bukan berarti semua mendapat nilai 100. Adil itu semua mendapat kesempatan yang sesuai kebutuhannya. Ruang kelas adalah miniatur masyarakat. Di satu kelas ada anak yang mampu menerima materi dengan cepat, ada pula yang lambat. Ada anak kaya, ada anak yg bahkan buat beli LKS masih berpikir. Ada anak pendiam, ada anak yang suka ngomong.

Pembelajaran konvensional sering tidak adil. Guru mengajar buat “anak tengah”. Oleh karena itu, anak menjadi cepat bosan dan anak yang lambat dalam menerima materi menjadi semakin tertinggal.

Pembelajaran Mendalam memaksa kita untuk membuat kelas yang adil melalui:
1. Diferensiasi: Guru Mengajar Manusia, Bukan Kelas
Saat proyek TOGA Otomatis, guru tidak menyamaratakan tugas. Untuk anak yang memiliki kemampuan menerima materi dengan cepat, diberikan tantangan coding Scratch sederhana: “Coba tambahkan sensor cahaya, agar kalau malam, tidak perlu menyiram”.

Untuk anak yang masih membutuhkan bantuan, kita dapat mengatakan “Nih, Ibu sudah membuat skema gambarnya. Kamu tinggal menyambung kabelnya, ya”. Dia tetap bisa berhasil dan merasakan “Aku bisa”. Untuk anak yang pendiam, guru dapat mengatakan, “Kamu jadi juru kamera ya. Tugasmu mendokumentasikan proses kelompok”. Dia tetap dapat berkontribusi. Akhirnya, tidak ada yang “ditinggal” dan tidak ada yang “dibuat menjadi asisten”. Semua memiliki peran.

2. Melatih Empati dan Kerja Sama
Pada tahap “Data Collection” model Discovery Learning, anak diminta bekerja kelompok dengan masing-masing kelompok berjumlah 4 orang. Ada yang menjadi ketua, bendahara alat, sekretaris, dan presenter.

Di sini terjadi keadilan sosial kecil-kecilan. Anak yang jago Matematika membantu temannya berhitung. Anak yang memiliki kemampuan public speaking, membantu temannya yang grogi presentasi. Anak memiliki HP dengan fitur yang bagus dapat berkontribusi dengan meminjamkannya untuk dokumentasi.

Melalui aktivitas ini, guru menanamkan bahwa “keberhasilan kelompok merupakan keberhasilan semua. Jika ada satu yang belum memahami, berarti kita belum selesai”. Dari sinilah lahir pemimpin yang adil, yaitu pemimpin yng tidak meninggalkan yang lemah karena sejak SMP dia sudah terbiasa begitu di kelasnya. Indonesia adil dimulai saat anak-anak belajar berbagi peran, bukan saling sikut demi ranking.

D. Dari Kelas Mewujudkan Indonesia yang Makmur

Makmur bukan berarti semua orang kaya. Makmur artinya produktif, kreatif, dan punya daya saing. Selama ini kita bangga kalau lulusan kita “diterima kerja”. Akan tetapi, jarang bertanya: “Lulusan kita bisa menciptakan lapangan kerja tidak?” Pembelajaran Mendalam menjawab ini dengan melatih 4C, yaitu Critical Thinking, Creativity, Collaboration, Communication.

1. Dari Konsumen Menjadi Produser
Contoh: Proyek “Bank Sampah Digital Sekolah”. Berawal dari masalah tunpukan sampah plastik di sekolah. Anak IPA menghitung berapa kg sampah per minggu. Anak Matematika menghitung potensi uang dari jual sampah. Anak TIK membuat aplikasi sederhana pencatatan bank sampah memakai Google Sheet. Anak Bahasa membuat poster kampanye. Hasilnya, sekolah memiliki dana tambahan dari penjualan sampah. Dana itu dapat digunakan untuk membeli buku. Akhirnya, anak-anak belajar: “Masalah = Peluang”.

Itulah yang dinamakan mindset orang makmur. Mereka tidak dilatih menjadi “pencari kerja”. Mereka dilatih menjadi “pencipta solusi”. Lima belas tahun lagi, bisa jadi salah satu dari mereka mendirikan start up daur ulang terbesar di Jawa Tengah.

2. Menghubungkan Kelas dengan Dunia Usaha dan Komunitas
Praktik baik lain: Guru IPS mengajak siswa kelas 8 untuk memetakan UMKM di sekitar sekolah. Lalu siswa ditugaskan membuat “Strategi Pemasaran Digital” untuk 1 UMKM batik. Anak datang ke pengrajin, wawancara, foto produk, membuat konten IG dan proposal. Hasilnya, perajin mendapat ide baru dan anak-anak mendapat pengalaman nyata.

Di sini kelas tidak lagi tembok 4 sisi. Kelas terhubung dengan pasar. Ilmu tidak lagi abstrak. Ilmu jadi uang, jadi lapangan kerja, jadi kemakmuran. Indonesia makmur dimulai saat anak-anak kita terbiasa berpikir: “Ilmu ini bisa dijual berapa? Bisa bantu berapa orang?”

E. Empat Praktik Baik Pembelajaran Mendalam Yang Bisa Langsung Dicontek

Praktik 1 : “Pertanyaan Pemantik” Sebelum Masuk Materi
Jangan mulai dengan “Hari ini kita belajar Listrik Statis”. Mulailah dengan : “Mengapa kalau kita buka baju di ruang AC gelap, akan ada percikan dan bunyi ‘tek’? Pernah mengalaminya?” Anak langsung penasaran. Otaknya menyala, padahal baru mau masuk materi. Ini namanya Berkesadaran.

Praktik 2: “Proyek 15 Ribu”
Setiap 1 bab, akhiri dengan proyek yang modalnya maksimal 15 ribu/kelompok. Misalnya dalam Bab Listrik Statis, anak diminta membuat elektroskop dari botol bekas. Pada bab pencernaan, anak diminta membuat alat penyaring air dari arang dan pasir. Tujuannya agar anak belajar bahwa sains itu murah, dekat, dan bisa menyelesaikan masalah. Ini Bermakna.

Praktik 3: “Galeri Karya 10 Menit”
Setiap akhir minggu, luangkan waktu selama 10 menit. Tiga kelompok maju memamerkan karyanya. Kelompok lain memberi 2 bintang dan 1 masukan. Tidak ada nilai, tetapi ada apresiasi. Kelas menjadi hidup dan anak menjadi berani. Ini Menggembirakan.

Praktik 4: “Jurnal Refleksi 3 Kalimat”
Lima menit sebelum pulang, anak diminta menulis di buku:
1. Hari ini saya belajar apa?
2. Ilmu ini bisa saya pakai untuk apa?
3. Saya bersyukur karena…
3 kalimat ini melatih metakognisi dan rasa syukur. Dari sinilah lahir karakter.

F. TANTANGAN DAN JAWABANNYA

Tantangan 1: Waktu Terbatas
Solusi: Tidak semua materi harus “mendalam”. Pilih 2-3 materi penting per semester untuk dibuat proyek. Sisanya jalan seperti biasa.

Tantangan 2: Alat Tidak Ada
Solusi: Ingat prinsip “Low-cost STEM”. Botol bekas, paku, HP siswa itu sudah menjadi laboratorium. Keterbatasan adalah guru kreativitas terbaik.
Tantangan 3: Orang Tua Protes “Kok anak saya nggak dapat PR banyak?”
Solusi: Undang orang tua saat “Galeri Karya” agar mereka dapat melihat bahwa anaknya tidak cuma hafal, tetapi bisa membuat sesuatu.

G. Penutup: Guru Adalah Arsitek Bangsa

Bapak Presiden pertama kita, Bung Karno pernah berkata: “Beri aku 10 pemuda, akan kuguncang dunia.” Saya mau mengubahnya: “Beri aku 1 guru yg mau melakukan Pembelajaran Mendalam, akan kubangun 1 generasi yg mengguncang dunia.”

Indonesia berdaulat, adil, makmur bukan tanggung jawab Menteri saja. Bukan tanggung jawab Gubernur saja. Tanggung jawab itu dimulai pukul 06.45, saat kita memilih menyapa anak dengan senyum.

Dimulai pukul 07.10, saat kita memilih bertanya daripada menyuruh menghafal. Dimulai saat kita memilih percaya bahwa anak di depan kita itu bukan “bejana kosong”, tetapi “api yang harus dinyalakan”.

Dari ruang kelas kecil di Purworejo, di Sukoharjo, di Sabang sampai Merauke…

Di sanalah Indonesia masa depan sedang dibangun. Bukan dengan pidato. Akan tetapi dengan kapur, dengan laptop, dengan botol bekas, dan dengan hati.
Mari kita mulai. Dari kelas kita. Hari ini.

Referensi :

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. (2025). Panduan Pembelajaran Mendalam untuk SD, SMP, SMA. Jakarta: Kemendikdasmen.

Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan. (2024). Salinan Keputusan BSNP No. 032/H/KR/2024 tentang Prinsip Pembelajaran. Jakarta: BSNP.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2022). Buku Saku Merdeka Belajar Edisi IV: Pembelajaran dan Asesmen. Jakarta: Kemendikbudristek.

Komalasari, K., & Saripudin, D. (2023). Pembelajaran Kontekstual: Konsep dan Aplikasi. Bandung: Refika Aditama.

Trianto. (2022). Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Sanjaya, W. (2021). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana.

Zubaedi. (2023). Desain Pendidikan Karakter: Konsep dan Aplikasinya dalam Lembaga Pendidikan. Jakarta: Kencana.